Arti Rasa

             

SMA N 2, sebuah SMA favorit tetapi masih kalah favorit sama SMA N 1  tentunya. Bukan sebuah keinginan sendiri bersekolah disini karena ini adalah keinginan orang tua dan hasil geseran karena tidak diterima di SMA 1 itu jelas. Hari ini adalah hari pertamaku mengikuti Orientasi sekolah. Aku tidak telat sebenarnya , hanya saja bingung mencari ruangan, sampai aku putuskan bertanya kepada segerombolan kakak kelas yang terlihat sibuk membahas sesuatu yang penting.
            “Permisi kak mau bertanya” tanyaku lirih yang diabaikan kecuali satu orang lelaki, tinggi.
“Gimana dek?.” Responya sambil menghampiriku.
“Mau tanya kak, ruang dua disebelah mana ya.?”
“Dilantai dua sana dek.?” Jawabnya sambil menunjuk arah ke atas menuju lantai dua.
“Terima kasih ya kak”
“Semangat ya dek.?” Ucapanya sopan.
“Hhhhmm,dia baik” ucapku dalam hati sambil langsung menuju ruangan . Biasalah murid baru, takut telat padahal masih kurang 15 menit.
            Tiba di kelas aku mencari bangku kosong sampai ada yang melambaikan tanganya mengisyaratkan untuk duduk di sampingnya.
“Disini aja sama aku” Ucapnya setibanya aku duduk di kursi sebelahnya” Namanya Ika, teman pertamaku di SMA ini. Obrolanku sama Ika seperti pada umumnya obrolan murid baru ketika kenalan. Sampai tiba-tiba hening sesampainya ada 2 kakak OSIS yang memasuki ruangan ingin memberikan materi pengenalan Sekolah. Ya seperti inilah orientasi di Daerahku, hanya pengenalan berupa materi karena dari pusat daerah dilarang diadakanya perpeloncoan.  Mataku tertuju kepada salah satunya, yang ternyata dia adalah orang yang aku tanyai di depan tadi.
“Oh dia OSIS, keliatan sih, kalau dia murid yang aktif” Ucapku dalam hati. Dia melihatku juga, sepertinya berfikiran sama bahwa aku yang menanyakan pada dirinya tadi, lalu dia tersenyum sopan, aku menyadarinya lalu memalingkan tatapanku.
“Sial, nanti dikira adek kelas ganjen lagi natapin kakak kelas” ucapku setengah malu, tapi tidak terlalu aku pikirkan
Perkenalan murid baru dengan cara maju di depan kelas sambil memperkenalkan diri. Tiba giliranku memperkenalkan diri
 “Nama saya Ellie Namira, dari SMP Cempaka Sari.” Singkat padat dan aku langsung kembali duduk.
***
            Pembagian kelas dibagi sesuai hasil tes pembagian kelas, sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua ku, Aku masuk di kelas unggulan di SMA ini. Awalnya biasa saja, namun terpaku dengan sebuah nama yang ada di daftar kelas , “Ika Ramadani” dia sekelas sama aku, syukurlah ada orang yang sudah ku kenal lebih dulu.  Kelas unggulan di sekolah ini adalah kelas Bilingual, dimana dalam pembelajaran menggunakan 2 bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
            “El, kita sekelas” ucap Ika sambil menepuk dari belakang.
            “Iya, syukurlah, nanti kita satu meja ya.”
            “Iya siapp, ke kantin yuk aku laper.” Aku mengangguk ajakan Ika untuk ke kantin. Sambil berjalan ke kantin aku melihat kakak kelas yang mengisi orientasi di ruanganku, dia tertawa bersama teman-temanya. Dia tidak melihatku, tapi tatapanku diketahui oleh Ika.
            “Diliatin mulu, ganteng ya.”
            “Bening  sih, dulu aku tanya ruangan sama dia”
            “Kamu suka?.”
            “Anjir murid baru macam apa baru juga pembagian kelas diumumin langsung naksir kakel, engga lah” Ucapku sambil ga habis pikir kalau bener-bener ada murid baru kaya gitu.
            “haha.. iya iya, kamu dari awal aku kenal juga udah keliatan kalau belum pernah pacaran.”
            “Anjir, haha. Udah ayo makan.” Ajakku sambil makan gorengan yang ada di meja makan.
            “El, kamu dilihatin kakak yang tadi.”
            “Kakak siapa?.”
            “Yang kamu liatin tadi, dia kesini deh kayanya.”
            “Ngapain?.”
            “Dek Ellie?.” Sapanya menebak nama dan masih berdiri.
            “Iya mas, gimana?.” Hal yang saya pikirkan adalah dia memperhatikan namaku..
            “Kamu kelas Bilingual ya, selamat ya, kelas kita sebelahan.” Bingung mau jawab apa saya hanya tersenyum . “ Yaudah aku balik duluan ya, selamat makan. “ Pamitnya lalu pergi meninggalkan kantin.
            “widihhh, baru aja masuk.” Ejek Ika
            “Apaan sih biasa aja kok.” Jawabku karena menurutku itu adalah hal yang wajar.
***
Sejak awal masuk sekolah aku memutuskan tidak hanya untuk belajar pulang belajar pulang, aku ingin mengikuti kegiatan yang sekiranya bisa meningkatkan skill ku dan tentu saja juga mempertimbangkan pembagian waktu dengan tujuan utamaku belajar. Aku sejak awal dikasih tau sama kakakku untuk tidak mengikuti extrakulikular yang menghambat pulangku. Iya sekolahku dengan waktu perjalanan 1 jam dari rumahku, jadi otomatis aku kost, pulang pun seminggu sekali, karena itu kakakku tidak mau waktu pulangku terhambat dengan kegiatan osis, ambalan, rohis dll. Dan aku memutuskan mengikuti extrakulikular English Debatte dan Drumband. Aku sebenarnya tidak pandai bermusik, kata kakakku itu untuk penyeimbang otakku agar tidak terlalu berat di pelajaran. Sedangkan English Debatte, yahh aku sudah diajari Bahasa Inggris sejak dini walaupun sebenarnya aku membencinya, tapi itulah yang aku kuasai.
Hari pertemuan perdana ku dimulai di Extrakulikular drumband dan pemilihan alat yang akan dipakai, sayangnya Ika tidak mau kuajak . Tidak mau katanya lebih baik main keluar. Temanku di Drumband ada Rani, dia cantik, cerewet, banyak orang yang menyukainya , berbeda denganku yang pendiam dan lebih menjaga bicara terutama dengan laki-laki. Aku di drumband ingin menjadi mayoret, menurutku itu keren.
“Kamu mau ambil el?” Tanya Rani
“Aku pengen jadi mayoret deh , kamu?”
“Aku pianika lah”
Giliran Rani maju untuk menulis list di depan dan dia mengambil pianika, setelah itu aku.
“Ayo ellie maju, kamu pengen ambil apa tulis di list depan”, kata guru drumbandku, Mas Agus dipanggilnya walaupun dia guru,  dia masih muda, jadi mudah akrab dengan siswanya.
Ketika maju saya menulis di list mayoret, setelah selesai menulis aku langsung kembali duduk, lalu langkahku berhenti ketika mendengar panggilan dari Mas Agus.
“Tunggu, kamu mau jadi mayoret? Jangan kamu jangan kamu “
Spontan saya manyun ke mas agus tapi aku tau dia tau yang terbaik, aku terlalu pendek katanya. Sedih sebenarnya, sangat sedih. Setelah itu saya merubah list alatku ke Belira, karena menurutku pianika itu jorok, haha. Lalu saya kembali duduk.
Disampingku Rani setelah aku duduk ia kembali maju kedepan menghadap Mas Agus dan berkata “ Mas aku mayoret ya” ijin rani
“ Iya boleh” Ucap Mas agus sambil mengisyaratkan menulis di papan.
Lalu Rani kembali duduk disampingku sambil menoleh kepadaku dengan meringis yang menyebalkan.
“I’m fine sis, I’m  fine” Ucapku Ironi
Itu benar-benar moment yang sangat menyebalkan antara keinginanku yang sudah sangat diketahui oleh sahabatku itu namun ia mengambilnya dengan senyum meringisnya. Haha. Tak apa kami masih sangat berteman baik saat itu.
***
Hari berikutnya di pertemuan perdana English Debatte. Di forum suasananya agak tegang, tenyata akan langsung pemilihan perwakilan untuk lomba debate Bahasa Inggris tingkat SMA se Kabupaten. Suasana tidak terlalu ramai , karena ternyata dipanggil yang sekiranya bisa mengikuti. Disana aku ngobrol dengan beberapa kakak kelas. Namanya kak Tika dan kak Evi.
‘’Sumpah sih tu anak kalau dirumah itu cuman nonton TV, kok bisa pinter gitu ya?” kak Evi heran.
“Tau tu anak, padahal kakaknya aja beda 180 derajat sama dia” Tambah kak Tika
Kak Tika adalah kakaknya Ika teman sekelasku,  aku lumayan banyak cerita tentang dia kalau kak Tika itu orangnya cerdas.
“Kak Tika kata Ika kakak itu rangking satu terus ya” tanyaku
“haha, itu bukan apa-apa dek, masih kalah sama Jecka dia tu rangking pararel terus sejak kelas 1” Jawabnya
“Kamu ellie ya, temenya Ika, ohhh kamu yang namanya ellie” tambahnya lagi yang seperti melihat harta karun yang selama ini ia fikirkan, entahlah aku tak mau berfikir panjang.
“hehe, iya kak” jawabku singkat
Tiba-tiba Pak Novi pembimbing debat memanggilku, spontan aku langsung mendekat.
“Ini tolong anterin surat dispen ke kelasnya Jecka kelas XI Ipa Bilingual” suruhnya
“baik pak”
Aku berjalan-jalan menuju ke ruang kelas yang bersebelahan dengan kelasku sendiri, sampai aku berada di depan kelas bertuliskan papan XI Ipa Bilingal, lalu aku mengetuk pintu.
“Permisi pak, ini ada surat dispen atas nama Jecka Pratama”
“Kamu pacarnya Jecka?” mungkin karena aku gugup kata itu ditelingaku menjadi “Kamu mencari Jecka?”
 “iya pak” jawabku sesuai pertanyaan yang aku dengar.
Spontan seluruh kelas bersorak seperti melihat pemain bola yang didukungnya memasukkan bola ke gawang, aku memasang wajah kebingungan sebenarnya apa yang terjadi, kupikir ada yang salah dengan penampilanku, namun setelah kulihat-lihat lagi tidak ada yang salah. Sampai bapak itu mengisyaratkan untuk diam dan bertanya sekali lagi.
“Kamu pacarnya jecka?” tanyanya sambil terengah-engah habis tertawa
“Eh bukann pak, mas Jecka yang mana saja gak tau” Jawabku mulai mengerti apa yang baru saja terjadi.
“ tadi katanya iya, nih jek, dicari cepet keluar” Perintah pak Joko
Pak Joko itu guru matematika yang menyenagkan, beliau biasanya menyelipkan candaan dalam belajar seperti tadi, ia adalah guru yang masih terkenang sampai sekarang.
Aku melihat-lihat sekeliling kelas sambil mengamati mana yang namanya Jecka, yang tadi dibicarakan kakak-kakak di perpus, dan yang baru saja menjadi bahan candaan di kelas.
Lalu seseorang berjalan menuju kedepan, menuju kepintu kelas, menghampiriku. Spontan aku kaget, wajahku memerah dan kututupi dengan buku yang aku bawa. Ternyata Jecka adalah kakak yang pernah kutanyai waktu MOS kemarin. Menjadi hal lucu kembali, kelas pun kembali bersorak melihat wajahku yang merah. Dan kak Jecka meringis berjalan menatapku , seperti menertawaiku. Ahh aku langsung keluar kelas , tak tahan lagi menahan malu yang ditimpakan padaku.
Berjalan menuju ke perpus, aku dibelakangnya, melihat belakang tubuhnya yang tinggi, dan tanda lahir dibagian lehernya yang menurutku lucu. Kami diam, iya mungkin malu dengan apa yang barusan terjadi. Namun lucu melihat seorang laki-laki bisa malu dengan hal seperti itu haha.
***
Sesampainya di perpus kami diseleksi satu-satu untuk debat menggunakan Bahasa Inggris. Setelah itu langsung diumumkan siapa yang akan mengikuti lomba mewakili sekolahan. Alhasil yang maju adalah Kak Tika, Kak Evi dan aku. Yang benar saja, aku satu-satunya murid baru belum genap satu bulan sudah diikutsertakan mengikuti lomba. Kak Jecka tidak lolos seleksi menjadi tim inti namun menjadi cadangan, terlihat sekali bahwa ia tidak niat di bidang ini meskipun akademiknya sangat baik.
Selesai dari seleksi debat tersebut, kami memutuskan untuk beristirahat bersama ke kantin. Kak Jecka cowok sendiri diantara kami, awalnya aku merasa aneh dengan hal tersebut, tapi ternyata mereka adalah 3 serangkai dengan otak ter encer di SMA di angkatanya, dan terlebih ternyata mereka satu desa, dari TK sampai SMA satu sekolahan.
“El kamu udah punya pacar?” Tanya kak Tika tiba-tiba
“Ah engga mba, belum pernah” jawabku sambil malu-malu
“Wahh bakal susah jek” kak Tika sambil melirik ke kak Jecka
“Apaan sih “ Elakan kak  Jecka sambil melempari kacang polong ke Kak Tika
Aku tertawa, melihat mereka bertiga. Bisa-bisanya menjaga persahabatan sampai SMA.
“El, aku sama Tika balik kelas dulu ya, kamu mau balik ngga” Tanya kak Evi
“Engga kak aku di sini dulu aja masih pengen minum kopi
Kak Evi dan Kak Tika pergi, tapi mas Jecka masih berdiri bersandaran tembok kantin dari tadi sambil makan kacang polong yang ia bawa.
“Cewek tuh jangan kebanyakan minum kopi ga baik” Katanya sambil makan kacang polong
“Ini tu udah keturunan dari mama papa semuanya minum kopi” jawabku
“Ngeyel kamu” Kata kak Jecka sambil melempari kacang polong ke arahku, and you know what? Kacangnya masuk ke dalam gelas kopiku.
“yahh kakk Jecka” Aku menggerutu sambil melihatnya yang justru ketawa.
“Yaudahlah aku mau balik kelas aja, mas Jecka resee” Aku langsung meninggalkan kantin dan menuju ke kelas.
***
Tau sendiri kan betapa bahagia penghuni kelas ketika jam kosong. Para kerumunan wanita yang ber selfie ria karena gembira murid baru yang memakai baju Osis SMA. Dan para pria yang menggerombol menjadi satu entah ngapain aku tak mau tau, karena kupikir pasti menjijikan. Namun semua itu bisa ditenangkan dengan menonton film yang ditancapkan ke LCD, seketika Penghuni kelas akan langsung duduk menempatkan diri, duduk manis, tenang, dan memperhatikan. Lucunya lagi ada satu atau dua orang yang langsung menempatkan diri dekat pintu untuk menjaga situasi aman. Kami suka film horror, karena hanya film ini yang bisa menjadikan kami tenang walaupun akan tiba-tiba teriak karena kaget dengan sound effect dari film ataupun waktu adegan setanya muncul.
Saat itu ada seseorang masuk ke kelasku, Kelas tetap dalam suasana menonton film karena itu bukan Guru, tapi kakak kelas, kak Jecka. Aku awalnya tidak sadar, tapi entah bagaimana tiba-tiba ia sudah ada di depan mejaku.
“Ini minum, buat ganti kopimu tadi, maaf ya” kata kak Jecka sambil meletakkan susu kotak di meja tepat di depanku.
“Minum dong” suruhnya lagi, aku lalu menancapkan sedotan lalu meminumnya. Belum aku ngomong sepatah katapun.
“Enak kan, udah minum susu aja, jangan kopi” tambahnya lagi, aku hanya menganggukkan kepala seperti di kasih nasehat dari seorang kakak ke adiknya. Sebenarnya aku heran apa yang dilakukanya, apa yang ia tunggu, menunggu susu yang kuminum habis kah atau gimana aku tak tau, dan apa pedulinya aku minum kopi, toh susu ini tidak akan mengubah fikiranku untuk tidak mencintai kopi. Kak Jecka malah ikut menikmati film di LCD bukanya langsung balik ke kelas karena ini adalah jam pelajaran, yah walaupun kelas kita dekat.
 Sekelas tiba-tiba menyuarakan kata “ciee” yang tidak bersamaan, membuat ramai kelas yang awalnya tenang menyaksikan adegan film horror.Aku tersenyum malu lalu wajahku memerah dan menundukan kepala. Kak Jecka hanya tertawa, aku heran arti tertawanya, tertawa yang menatap mataku lalu memalingkan pandangan kesamping atau kebawah lalu melihatku lagi setelah itu tersenyum, selalu seperti itu tertawa yang ia berikan kepadaku sejak awal aku mengenalnya.
“Aku balik kelas dulu ya” pamit kak Jecka
“Iya mas, makasih susunya” jawabku
Pikirku kak Jecka hanya ingin mengakrabkan diri denganku karena kita satu tim debate, karena aku satu-satunya di tim yang mungkin menurut kak Jecka baru.
***

Saat itu pulang sekolah dan di parkiran, hal yang menyebalkan ketika di parkiran adalah menunggu motor bisa keluar dari tempatnya karena terpenuhi motor-motor yang lain. Aku berada di pojok parkiran, disana ada tempat duduk, aku duduk disitu memantau motornya Rani bisa keluar atau belum. Aku berangkat sekolah bersama Rani, karena rumah kami satu arah. Waktu itu tak sengaja aku melihat kak Jecka ,ia sedang menaiki motornya bersiap-siap mau keluar tapi masih menunggu. Entah kenapa aku memandanginya. Iya kak Jecka itu ganteng, putih tinggi. Aku baru menyadarinya saat itu. Lalu mas Jecka tertawa, aku tersenyum melihat tertawanya , ia manis ketika tertawa, sampai aku penasaran apa yang ia tertawakan. Ia ternyata memandangi spion motornya dan baru aku sadari spionya mengarah ke arahku. Yang benar saja, dari tadi aku memandanginya ternyata ia mengetahuinya. Aku malu, sangat malu, mataku terbelalak lalu memalingkan wajahku, sesekali kulirik lagi, ia masih melihatiku.
Kak Jecka belum pulang juga padahal ia sudah bisa keluar, sampai motornya Rani bisa keluar lalu aku pulang, kak Jecka baru ikut keluar parkiran. Selalu seperti itu sampai suatu hari semua itu berubah. Tapi bukan sekarang.
***
Aku dikamar, diatas Kasur . Aku punya banyak buku catatan, dan banyak alat tulis, dan juga peralatan menggambar. Aku suka menulis, dari kecil aku disuruh menulis oleh kakakku disuruh membuat daily activity dan setiap minggunya dibaca kakakku, lalu dibenarkan penulisan yang benar. Alhasil sekarang jadi suka menulis walaupun begitu tulisanku tetap jelek haha. Aku punya kakak, ia sangat berpengaruh dengan bagaimana adanya diriku sekarang ini. Ia yang mengajariku Bahasa Inggris, dan mengarahkanku untuk terus menulis dan membaca. Apa yang ia lakukan pun kadang ingin ku ikuti. Aku dan kakakku sama-sama suka kucing dan coklat. Seberapa kami suka kucing? Ketika berpapasan di jalan ketika naik motor kami menyapa nya. Entah berkata “hay, pus, hallo” haha. Dan ketika jalan menemukan kucing kami berusaha memberinya makan. Kami sangat menyayangi kucing, bagi kami kucing adalah makhluk tuhan paling lucu yang Tuhan ciptakan, kadang kami heran jika ada orang yang mengaku tidak suka kucing, kami beranggapan orang-orang itu rugi. Aku sangat merindukan kakakku. Namanya mas Bobby. Ia dimana sekarang ? ia tugas kedinasan menjadi POLRI sejak aku masih SMP kelas 1. How much I miss him, aku sering depresi sendiri ketika aku sedih tidak ada yang menemani, iri kadang melihat teman-teman yang bisa dekat dengan saudaranya. Aku punya saudara tapi berasa anak tunggal. Dan yang lebih menyebalkanya lagi keluarga besarku selalu membanggakan mas Bobby. Padahal di nilai akademik sekolah aku lebih melampauinya, yah mau gimana lagi, semua itu kalah dengan kakakku yang sudah sukses di usia muda, bahkan ia turut serta membiayai pendidikanku sampai sekarang.
Aku selalu mencari motivasi dari luar untuk menggantikan kakakku, dan di SMA aku bertemu kak Jecka. Aku bercerita dengan buku catatanku aku menuliskan kak Jecka di bukuku.
“ Ada seseorang lelaki, ia yang memang perhatian atau aku yang terlalu menganggap lebih? Dia pintar, tampan, baik. Dia sempurna kurasa. Kata orang masa SMA itu masa paling indah karena akan merasakan cinta Pertama. Apakah ini yang namanya suka? Haha, berhayal apa aku ini. Orang seperti dia? Denganku? Kurasa tidak. “
Apakah menurutmu aku langsung menyukai kak Jecka? Tidak, aku hanya menjadikan ia motivasi diriku sendiri untuk menirunya, maksudku dalam hal akademik. Hanya itu percayalah, tidak lebih. Karena jika kamu mengerti, aku sangat membutuhkan orang yang nyata dapat terlihat untuk menjadikanku kuat menjalani ini. Sebagai adik yang tanpa kakak disampingnya.
***
Setelah pulang sekolah aku tidak langsung pulang tapi langsung latihan persiapan lomba debate, yah di dalam debat kita mendiskusikan argument yang bagus untuk lomba. Sebenarnya aku takut, karena dari zaman belanda yang menjadi juara satu adalah SMA N 1. Kenapa dari zaman belanda? Iya sekolah itu memang sudah dari zaman Belanda haha. Sekolah ku ini sebenarnya Gedung 2 dari SMA N 1 , namun karena perkembangan zaman, dijadikanlah menjadi SMA N 2. Aku tidak mau pusing, lomba ini akan kujalani semampuku, semampuku disini bukan berarti aku malas, namun tidak akan memikirkan sampai menghabiskan waktu belajarku untuk mengurusi argument debate atau berambisi menjadi juara satu, aku tidak akan berfikir kesitu, toh sudah kalihatan siapa yang akan menjadi juara satu.
Setelah latihan kak Evi dan kak Tika pulang. Aku menuju kantin ingin minum kopi “awalnya” sambil menunggu waktu latihan drumband. Kak Jecka mengikutiku sambil bingung melihatku yang tidak pulang. Akupun juga bingung kenapa kak Jecka mengikutiku.
“Kak Jecka itu suka sama aku ya” kataku sambil membalikkan badan menoleh kebelakang dengan nada agak keras merasa risih diikuti setelah kemarin datang ke kelas tiba-tiba.
“Ihh PD sekali kau dek” Jawabnya dengan raut wajah menyebalkan. Aku tak mau menanggapinya lagi dan langsung menuju ke kantin memesan kopi dan soto. Aku duduk, dan kak Jecka juga memesan es jeruk dan soto. Setelah itu ia duduk di depanku. Aku menatapnya sambil makan sotoku, ia juga menatapku , kita sama-sama kebingungan kenapa msing-masing dari kita tidak pulang. Tiba-tiba saja ia menukar minuman ku dengan minumanya. Aku tak bicara lebih karena aku tau maksudnya, dan aku sangat lapar dan meneruskan makanku, kami makan bersama.
            “Kamu kok ga pulang dek?” Tanya kak Jecka
            “Langsung drumband mas, males bolak balik” Jawabku sambil minum es jeruknya
            “Oh ya? Kamu pegang apa?” Tanyanya
            “Belira, mas Jecka juga ikut drumband, pegang apa?” aku balik Tanya
            “Senar drum, kok panggil mas? Tanyanya sambil agak menahan senyum
            “hmmmm” Aku diam malu menjelaskan bahwa itu panggilan untuk kakakku. Dia hanya tersenyum. Setelah itu sampai sekarang aku memanggilnya mas Jecka.
            Latihan Drumband berlangsung, awalnya aku kurang fokus karena ternyata satu ekskul dengan mas Jecka. Namun, aku lalu berfikir bahwa aku harus memberikan yang terbaik. Latihan drumband berada di dalam ruangan, karena kami baru latihan musik yang akan dimainkan. Sesekali aku melihat mas Jecka, ia langsung menyadarinya, dan tersenyum.
***
            Aku lelah setelah seharian dengan kegiatan yang begitu banyak, aku membaringkan diriku di Kasur. Memainkan HP seperti pada umumnya kaum milenial zaman sekarang yang selalu aktif bermain sosmed . Aku membuka Facebook ku, sebenarnya sudah jarang aku menggunakanya, tapi untuk mencari seseorang menurutku lebih efektif dari Facebook. Iya, aku sedang mencari akunya mas Jecka, entah dari kapan aku semakin penasaran terhadapnya. Mengetikan nama Jecka Pratama , dan langsung ketemu akunya. Disitu tertulis tanggal lahirnya 13 Mei 1997. Ada nomer telefonya dan entah dorongan dari mana aku simpan nomernya. Menurutku nomer di Facebook adalah nomer lama, jadi aku tak yakin bahwa itu benar-benar nomernya. Namun aku iseng mencoba untuk menelfonya dan kagetnya aku, panggilanku berdering. Aku langsung mematikanya, aku takut nanti dikira aku menyukainya. Ya ampun tidakk, tanganku gemetaran, aku takut. Sepertinya ia langsung menyimpan nomer yang telah menelfonya lalu dilihatnya di WA, dan dia langsung paham itu fotoku.
            “Dek Ellie?”
            “Iya mas, hehe”
            “Dapat nomerku dari mana”
            “Itu di pampang di FB, biar apa coba”
            “Masa sih, yaudah nanti aku privat”
Setelah itu mas Jecka mengajak chattingan dengan santai. Ia tidak menanyakan tentang seluk beluk nomernya yang kudapat. Percakapan kita seperti percakapan biasa seperti sedang apa sampai ucapan selamat tidur yang membuat aku senang tak terkira.
            “Selamat tidur dek Ellie”
Sederhana, namun aku senang. Awalnya aku berfikir semudah itu kah menjadi sedekat ini? Atau memang mas Jecka begitu ke semua orang? Haha aku tak mau berfikir panjang.
***
            Lomba Debate Bahasa Inggris telah tiba, aku tidak mau membahasnya terlalu banyak, aku cukup menceritakan hasilnya saja. Sekolah kami berhasil meraih Piala Juara 3. Biasa saja menurutku karena sudah turun termurun mendapatkan juara tersebut. Yang mau aku ceritakan adalah aku tau seseorang yang mengenalku entah dari mana. Namun, dari aku mendapatkan juara tersebut, ia berani menampakkan diri walaupun aku belum mencari-cari siapa dia. Ada pesan di HP ku, pesanya lewat via SMS, klasik sekali.
Selamat ya Ellie
-Jhosua
Aku hanya membacanya, tidak mencari-cari siapa orangnya. Bukan karena aku tidak mau. Hanya saja saat itu aku terlalu fokus dengan kebahagiaan bersama teman-teman satu tim ku, dengan mas Jecka juga hingga aku melupakan tentang pesan itu.
***
            Ujian Tengah Semester telah tiba. Sistem pembagian tempat duduk ujian adalah silang yang berarti ketika ujian nanti siswa tidak duduk dengan siswa yang satu angkatan namun dengan angkatan lain. Aku mesuk keruang ujianku, mencari tempat dudukku lalu aku duduk dan belajar materi mata pelajaran yang akan diujikan. Saat itu aku hanya menunduk membaca buku. Namun ada seseorang yang juga mencari bangku tempat duduknya. Menghitung nomer absen satu-demi satu sampai ia menemukan tempat duduk sesuai nomer ujianya. Itu tepat di sampingku, ia entah berteriak atau kaget aku tak tau, pokoknya suaranya keras. Teman-temanku lalu tiba-tiba bersorak seperti ada hal yang sangat menarik . Begitu keras sampai aku mengangkat kepalaku ada apa. Dan yang kudapati adalah mas Jecka yang dengan tampang kaget tak percaya bahwa ia sebangku ujian denganku. Apa aku biasa saja? Tidak, sungguh tidak. Aku juga menyuarakan suaraku dengan keras, kaget, sungguh kaget. Dan tentu saja agak malu karena teman-teman lain mengejek aku dengan mas Jecka. Karena sudah terkenal setelah insiden telingaku yang salah dengar ketika mengantarkan surat dispen ke kelasnya mas Jecka.
            Kenangan muncul ketika Ujian Tengah Semester ini. Antara tegang menghadapi ujian dan senang sebangku dengan mas Jecka. Aku masih tak tau mengapa aku sangat senang sebangku denganya.
            Kenangan yang terjadi adalah, ketika ia merapikan rambutku yang menutupi mata, mengerjakan soal ujianku yang aku tak bisa. Iya dia sangat pintar. Bahkan saat perangkingan saat itu dia rangking satu Pararrel di angkatanya. Dan aku tau sendiri bagaimana ia mengerjakan ujianya. Dan yang membuatku jatuh hati selanjutnya. Ketika kita rebutan permen yang kubawa untuk dimakan ketika mengerjakan ujian. Aku tak percaya mas Jecka modus atau apa. Namun ia memegangi tanganku, tidak segera melepaskanya, ia memeganginya lama. Sampai ada salah satu orang mengetahuinya ia langsung melepaskan tanganku.
***
Kami semakin dekat saat itu. Ia yang memberikan bekas buku pelajaranya dulu ketika masih kelas satu kepadaku sampai aku yang menanyakan PR kepadanya. Dan mas Jecka yang menyuruhku mengerjakan PR Bahasa Inggrisnya.
Suatu malam ketika aku selesai mengerjakan PR Bahasa Inggrisnya aku menulis.
Kak Jecka
Aku suka caramu ketika berbicara denganku
Aku suka ketika kamu yang sering memandangiku lalu tiba-tiba tertawa
Yang merapikan rambutku yang jatuh
Aku suka mengacak-acak rambutmu
Aku suka…
Saat itu aku mendeklarasikan kepada diriku sendiri bahwa aku menyukainya. Apakah cinta? Aku tak tau, aku belum pernah merasakanya. Namun setelah itu aku selalu suka memandanginya. Bahkan aku selalu mencuri-curi waktu hanya untuk sekedar melihatnya. Misal selalu mengajukan diri jika dimintai tolong guru mengambilkan barang di kantor atau ada keperluan di TU, hanya untuk melewati depan kelasnya dan melihat wajahnya. Sebenarnya aku malu, karena setiap ada aku dan mas Jecka pasti teman-temanya menyuarakanya. Aku tak menyatakan bahwa aku mencintainya, yang aku tau aku menyukai semua tentang dia. Melihat wajahnya, tertawanya, memandangi tanda lahir di lehernya pokoknya semuanya aku suka . Entah dalam arti apa. Lihat saja nanti.
***
            Banyak puisi, tulisan , dan cerita bahwa cinta itu memberikan luka. Banyak tulisan menyatakan bahwa Jika kau siap jatuh cinta, maka kamu harus siap terluka . Mana kutahu, sungguh aku belum pernah merasakanya. Saat itu benar-benar aku hanya menganggapnya tulisan yang terkenal. Sampai ketika rasaku ini sampai di titik untuk meminta kepastian. Wanita itu lucu ketika masuk ke masa-masa ini. Ketika wanita merasa dekat, ia akan ingin lebih, dan ia akan selalu mencari-cari makna dari sebuah kedekatan. Mencari-cari arti dari sebuah kebersamaan yang sudah dilalui. Padahal terkadang pria hanya ingin dekat sebatas teman, atau memang hanya ingin dekat, bukan berarti kedekatan itu berujung di sebuah perasaan yang disebut CINTA haha. Entah siapa yang salah, wanita yang terlalu terbawa perasaan, atau pria yang memang suka mendekati banyak perempuan. Aku tak tahu, aku tidak ahli, ini bukan bidangku. Sebenarnya aku merasa biasa saja, seperti ada teman yang bisa kumintai tolong dan aku menyukai orang tersebut. Seperti aku suka ketika tidak bisa dalam satu mata pelajaran aku bisa menanyakanya ke mas Jecka, kenapa mas Jecka? Karena aku suka ketika bertanya kepadanya dari pada ke orang lain. Awalnya biasa saja. Sampai suatu ketika ada seseorang temanku yang lebih tua daripada aku berkata. Lebih tepatnya seperti interogasi kurasa haha.
“Kamu deket sama si Jecka?”
“Iya, lumayan”
“Kalian pacaran?”
“Engga”
“Jecka suka sama kamu?”
“Aku gatau lah”
“Aduh el, kamu harus hati-hati, jangan mudah didekati seperti itu kalau gaada kepastian”
Setelah ia berkata seperti itu, aku benar-benar memikirkanya. Konyol memang jika difikir di dewasa ini. Namun saat itu, menurutku aku adalah seorang anak kecil yang baru pertama kali dekat dengan pria dan menurutku aku butuh bimbingan dari yang lebih tua seperti itu. Aku benar-benar memikirkanya, mencari arti sendiri, namun tak juga menemukan. Namun aku masih diam, tidak mau mengumbar apa yang sedang aku fikirkan saat itu. Dan aku menemukan sebuah jawaban. Saat itu aku sedang di kantin, suasana yang ramai, dan ada mas Jecka beserta teman-temanya yang selalu mengejekku dengan mas Jecka, aku baru tau namanya saat itu. Ia adalah Bintang dan Faiz.
“Jek, tuh ada di Ellie” Kata Bintang dengan keras, rasanya ia ingin semua orang tau kalau ada aku disitu.
Semua orang ikut mengejek ku dengan mas Jecka. Aku sebenarnya tidak menghiraukanya, menurutku itu adalah hal yang bodoh untuk diberi tanggapan. Aku hanya fokus membeli minuman lalu pergi, namun terhambat karena sangat ramai saat itu dan harus antri membayar. Aku sekali melihat bagaimana mas Jecka menanggapinya dan ia hanya ikut tertawa. Tak masalah menurutku, karena ia memang sedang bercanda dengan teman-temanya.
“Jek, makan-makan dong, pacaran ga bilang “
“Apaan sih”
“Alah ngaku jek, pacaran kan”
“Engga lah, Ellie adikku”
“Alahh kakak adek an segala”
Aku menatap mas Jecka setelah ia menjawab bahwa aku adalah seorang adik baginya, menatapnya dingin, sebentar lalu pergi. Setelah apa yang dijawab oleh mas Jecka saat itu, aku tak bisa mengingat percakapan setelahnya. Aku terpaku dengan jawaban mas Jecka yang menganggapku seorang adik baginya. Semua itu menjawab semua yang sedang terfikirkan sejak kemarin. Bukan karena aku tak mau dekat dengan mas Jecka sebagai adiknya, aku hanya berusaha melindungi diriku. Aku tak mau dianggap mudah didekati oleh seseorang meskipun baru mas Jecka yang dekat denganku.
***
            Setelah pulang sekolah seperti biasa aku di kantin terlebih dahulu, meminum segelas kopi. Lama aku tak meminumnya karena selama bersama mas Jecka , ia benar-benar menjauhkan diriku dengan kopi. Beberapa saat kemudian mas Jecka datang.
“Dek, kok kamu minum kopi sih”
“Mas Jecka apaan sih” Nadaku agak tinggi yang menjadikan mas Jecka terhenti untuk menarik gelas kopiku. Mas Jecka terdiam seperti mengerti bahwa keadaanku sedang tidak baik, lalu ia memesan es jeruk lalu ikut duduk di depanku.
“Ada apa dek?”
“Ga ada apa-apa mas”
“Kamu gak mau cerita?”
“Emang sejak kapan mas Jecka peduli?”
“Maksud kamu?”
“Mas Jecka itu anggep aku apa?”
“Tadi kan rame dek”
“Udah ah mas” Aku meninggalkan mas Jecka sendirian di Kantin.
Habis itu latihan Drumband seperti biasanya , hanya saja aku tidak lagi memandangi mas Jecka , tidak lagi ke kantin bersama seperti biasanya. Aku bersama teman-temanku, sepanjang latihan drumband. Meskipun masih yang mengejekku dengan mas Jecka aku diam, mas Jecka masih tertawa mananggapinya.
            Segalanya berubah sejak saat itu, aku yang tidak lagi bersama mas Jecka, atau hanya sekedar ngobrol. Tidak ada lagi meminta bentuan mas Jecka dalam masalah pelajaran sekolah. Aku benar-benar menjauh. Menurutmu aku begini karena kecewa mas Jecka berkata bahwa aku adiknya? Bukan . Aku hanya benar-benar memikirkan apa yang dikatakan temanku kemarin bahwa aku harus hati-hati. Sebagai perempuan, menjaga diri dengan pria itu perlu, agar kamu tidak dianggap rendah nantinya. Dekat namun tidak ada suatu hubungan? Aku tidak mau seperti itu. Itu yang ada di fikiranku saat itu.
            Aku melihat ponselku karena berdering menandakan ada pesan masuk. Itu dari mas Jecka. Mungkin hampir seminggu aku tiba-tiba menjauh dengan mas Jecka. Mungkin dia kira aku hanya sedang bad mood yang menandakan tidak ingin bicara lalu bisa sembuh dengan sendirinya. Nyatanya tidak.
Dek
Ada apa mas?”
Kalau mas ada salah, mas minta maaf
Gaada kok mas, tenang aja
Kamu kenapa masih marah
Mas kita itu gaada hubungan apa-apa
Kamu gasuka sama mas?”
Udah lah mas
***

            Setelah itu semuanya benar-benar berubah. Mas Jecka yang sudah tidak menanyaiku lagi, sudah tidak ada lagi mas Jecka yang menungguku ke kantin ketika istirahat, sudah tidak ada lagi ke perpustakaan bersama untuk belajar. Kecuali yang tersisa adalah kami masih satu Extrakulikular Drumband, ejekan dari teman-teman tentang aku dan mas Jecka. Karena asal kamu tau, berita itu sangat popular sampai ke guru-guru. Mungkin karena aku dan mas Jecka adalah salah satu murid terbaik di angkatanya. Entah mungkin guru-guru senang apabila kita bersama. Namun tidak. Dan satu hal yang tersisa yaitu mas Jecka yang masih menungguku untuk keluar parkiran . Terus seperti itu. Entah apa yang ia perhatikan atau aku yang terlalu PD bahwa ia menungguku. Tapi itu nyata. Sebelum aku keluar dia tidak akan keluar duluan. Entah hanya duduk di motornya bersama teman-temanya jika ada , bahkan hanya sendiri. Kadang aku mendapati ia memerhatikanku lalu tersenyum. Aku juga tersenyum, hanya menghargai sapanya. Itu saja.
            Kehidupanku biasa saja setelah itu. Aku mudah melupakan? Iya mudah. Bukankah itu menandakan bahwa perasaanku dengan mas Jecka itu hanya kagum semata. Iya kan? Itulah yang aku sadari saat itu. Tidak lebih dan hanya yahh seperti apa yang ia katakan. Aku mencari seorang kakak. Kau paham juga kan. Kuharap iya.
***
            Satu tahun berlalu. Sekarang aku kelas 2 SMA. Waktu memang terasa begitu cepat. Selain pindah ruang kelas, dan ganti Badge Kelas, menurutku semuanya tetap sama saja. Tidak ada yang berubah. Berita mas Jecka yang mendapat rangking pararel lagi, dan dia yang masih menungguku di parkiran, sudah biasa. Aku tidak pernah menanyakan kenapa mas Jecka seperti itu sampai saat itu. Karena selagi ia tidak menggangguku, kurasa tak apa, toh itu hak dia untuk melakukanya.
            Waktu itu tepat ulang tahunku. Aku berada di rumah di tempat tidurku. Merenung bahwa umurku semakin tua haha. Aku memandangi ponselku, banyak yang mengucapkan ulang tahun. Aku bukan orang yang suka merayakan ulang tahun sebenarnya, kuharap kamu mengerti. Semuanya kubalas satu-satu untuk menghargai ucapan mereka. Namun terhenti dengan satu nomer yang belum aku namai.
Selamat Ulang Tahun Ellie Nurvita. Apapun yang terbaik untukmu.
-Joshua
            Aku baru menyadarinya saat itu bahwa orang yang bernama Joshua ini yang dulu juga mengucapkan selamat kepadaku sehabis lomba debat ketika kelas 1. Aku baru terfikirkan saat itu. Aku tidak membalas pesanya karena aku berniat mencarinya besok. Iya besok aku akan mencarinya.
***
            Keesokan harinya, ketika istirahat aku benar-benar mencari orang yang bernama Joshua. Mencari informasi kelas apa dia dari teman-temanku, dan yang kudapati ia kelas IPS 1. Aku langsung menuju kelasnya. Berfikir bahwa aku begitu berani? Aku pun begitu haha. Entahlah, namun yang ada difikiranku saat itu, aku penasaran yang mana orang yang bernama Joshua. Mungkin karena merasa bersalah sejak aku kelas satu aku tidak menanggapinya. Namun bukan salahku juga, ia yang tidak menampakkan diri di depanku bukan?.
            Aku sampai di depan kelas IPS 1 . Aku hanya diluar, tidak berani masuk kedalam. Kelasnya ramai, padahal sedang istirahat. Awalnya aku mengira bahwa mungkin tidak akan menemuinya karena sedang istirahat. Tapi ternyata tidak.
“Hay, ada yang namanya Joshua”
“Josh ada yang nyariin nih” Belum juga bertanya lebih lanjut namun ia langsung berteriak dan berkata seperti itu. Aku hampir malu saat itu.
Aku melihat-lihat dari luar dan memperhatikan siapa yang menanggapi panggilan nama “Joshua” . Dan aku mendapati seseorang yang sedang di pojokan duduk dibangku , mungkin sedang bercanda dengan teman-temanya. Ia juga seperti mencari-cari siapa yang telah mencarinya. Hingga ia mendapati tatapan mataku, dan seperti agak kaget dan langsung memalingkan wajah. Aku tak tahu namun aku sempat melihat senyuman dari bibirnya sebelum berpaling. Entah itu karena bertemu denganku atau memang sedang bercanda dengan teman-temanya. Awalnya aku merasa ia tidak mau bertemu denganku karena tidak langsung keluar kelas. Namun sebelum aku berniat pergi ia sudah turun dari bangku dan berjalan keluar. Aku menahan senyum saat itu. Entah tidak menyangka dengan diriku sendiri yang berani menemui seseorang yang belum pernah kukenal, dan melihat Joshua yang juga menahan senyum dan sedikit agak malu ketika mau menghadapku,  entahlah apa yang ia fikirkan haha. Apakah ini yang dinamakan tersipu malu? Aku tak tahu. Selucu inikah? haha
            “Hey” Sapanya pelan, sangat pelan dan agak lirih, tapi masih mampu kudengar. Diiringi bibirnya yang menahan senyum.
            “Hey” Kusapa juga yang juga menahan senyum juga kurasa.
            Aku tak tau sebenarnya setelah ini apa. Aku hanya ingin tahu wajahnya namun malah berhadapan denganya langsung seperti ini. Kami agak terdiam saling bertatapan sampai salah satu dari kami tak kuat menahan tawa. Aku
            “Kenapa”
            Aku hanya menggelengkan kepala menandakan bahwa tidak ada apa-apa.
            “Kenapa mba, nagih hutangnya Joshua ya” teriak salah satu dari dalam kelas.
            “Iya, ini ditagih malah ketawa-ketawa haha” Jawabku santai, yahh mungkin karena satu angkatan jadi aku merasa santai dengan mereka.
            “Berapa si berapa” Joshua menanggapi dengan tertawa
            “Aku cuman mau ngucapin makasih atas ucapanya”
            “Gitu doang?”
            “Dih, daripada kamu cuman lewat chat” Kami tertawa, sebenarnya itu pertama kali kami tertawa bersama. Lucunya aku tertawa sambil memukulkan tanganku di dadanya sambil badanku agak mendekat dan ia menghadang tanganku dengan tanganya namun tidak menolak. Kita tertawa seperti itu . Hampir seperti itu. Joshua lalu melihat sekeliling, entah apa yang ia cari.
            “Aku antar ke kelas”
            “Iya” Aku menerimanya, karena sebenarnya aku takut berjalan sendiri. Maknya aku juga heran kenapa diriku berani datang ke kelas Joshua sendirian.
            Ketika perjalanan menuju kelasku, sebenarnya tidak jauh, namun entah rasanya begitu lama. Entah apa yang kita bicarakan, bukan hal yang penting sebenarnya, tapi menyenangkan.
            “Josh, kamu ikut ekskul apa”
            “Kita kan samaan, drumband el”
            “Hah, masak?” Aku kaget dan heran
            “Kamu mah liatin si Jecka mulu haha” Awalnya aku merasa dia berkata seperti itu karena memang berita itu sudah tersebar luas, aku juga sudah sering mendapatkan ejekan dengan mas Jecka. Jadi aku biasa saja.
            Apaan”
            Udah ngaku haha”
            Dih, engga” aku agak menyolot dan ekspresiku diketahui Joshua hingga ia berhenti membicarakan mas Jecka.
            “Udah sampai, sana balik”
            “Diusir?”
            “Kan bentar lagi masuk”
            “Ya udah aku balik dulu” Ia berpamitan melambaikan tangan seperti ucapan selamat tinggal, lalu mengarah matanya kebelakang sambil melangkah pergi. Aku ikuti arah matanya ternyata itu mas Jecka yang sedang di depan kelas bersama teman-temanya. Ia memperhatikan Joshua yang habis bersamaku. Aku tak peduli ada apa aku langsung membalas lampaian tangan Joshua. Itu awal mulanya aku bertemu dengan lelaki bernama Joshua, dia tinggi, alis matanya yang lebat, dan lucu, entahlah. Dia baik padaku, aku juga baik padanya.
            Di dalam kelas , Ika teman sebangkuku memasang wajah curiga sesampainya aku menempatkan diri ke meja tempat dudukku.
            “El itu tadi siapa?”
            “Namanya Joshua anak IPS 1, kenapa?”
            “Temen? Saudara?”
            “Kenapa si pengen tau banget, haha”
Ika tidak melanjutkan pembicaraan tentang Joshua, mungkin ia merasa bahwa pertanyaanya terlalu mencampuri urusanku. Ika orang yang pandai menghargai orang lain. Walaupun sebenarnya terlihat diwajahnya bahwa ia ingin tau lebih. Aku tak tau untuk apa, mungkin karena ia tetangganya mas Jecka jadi ia ingin tau, tapi entahlah. Jangan sudzon hahaha.
***
Setelah aku mengenal Joshua, entah kenapa kemanapun aku pergi aku selalu menemukanya. Ketika aku di depan kelasku menengok ke bawah aku mendapatinya sedang di depan kelasnya juga, apakah aku mencarinya? Entahlah. Tapi Joshua juga memandang ke atas seperti mencari-cari seseorang sampai ia menemukan mataku dan matanya bertemu, lalu tersenyum. Aku selalu menemukanya di kantin, dan di parkiran. Anehnya ia tidak pernah mendekat atau bahkan mengajak bicara. Padahal menurutku aku denganya sudah merasa dekat, sebagai teman maksudku. Tapi entahlah. Kadang ia dikantin karena hafal pesananku, ia selalu memesankan kopi dan mengantarkanya di mejaku, Ia juga memberikan ruang untukku ketika berdesak-desakan ketika ingin membayar di kantin, mengambilkan jajanan yang ingin kuambil ketika berdesak-desakan juga di kantin dan tersenyum kepadaku setelahnya. Dan di parkiran. Tanpa kusuruh ia selalu menata parkiran di dekat motornya rani agar kami bisa cepat keluar. Tapi disini ia tidak tersenyum kepadaku setelahnya. Aku peka Josh, apa yang kamu lakukan sebenarnya. Aku merasa ingin mengucapkan terima kasih setiap saat tapi Joshua tidak pernah mendekat dan mengajak bicara.
            Aku bercerita kepada Rani tentang Joshua yang seperti itu.
            “Ran, kamu tau Joshua?”
            “Anak IPS ya? Kenapa?”
            “Kamu kenal?”
            “Engga cuman tau aja”
            “Kamu tau engga, dia itu selalu mesenin aku kopi pas di kantin, terus dia anterin sendiri, Terus lagi ia bantu aku terus kalau lagi desak-desakan di kantin waktu mau bayar”
            “Wah-wahh”
            “Terus lagi kamu sadar engga, dia itu selalu mindahin motor- motor di parkiran biar kita bisa cepet keluar”
            “Eh iya masak”
            “Iya ran, aneh kan. Dia ngapain coba”
            “Kamu ga pernah nanya?”
            “Dia itu ga pernah deketin terus ngajak ngobrol”
            “Coba liat deh besok”
***
            Seperti yang dikatakan Rani kemarin. Ia mulai memperhatikan gerak-gerik Joshua terhadapku untuk membuktikan perkataanku kemarin itu benar atau tidak.Setelah melihat tingkah Joshua di kantin yang selalu menjagaku agar aku tidak didesak orang lain, setelah itu  rani percaya. Entahlah tapi Rani sangat senang bahwa ada seseorang yang seperti itu kepadaku. Aku tak tahu, tapi Rani sahabatku.
            “Itu sih kayanya suka sama kamu sih ell”
            “Masak sih, tapi kok ga ngechat atau apalah”
            “Kamu ngarep?”
            “Engga gitu, aneh aja kan”
            “Eh itu liat lagi ngrapiin motor biar kita bisa keluar”
            “Kan bener kataku”
            “ Makasihh Joshuaaaa” Teriak Rani, didepan banyak orang. Aku tak habis fikir dengan apa yang Rani perbuat. Maksudku, apa yang ia inginkan.
            Disana aku melihat Joshua yang merasa terpanggil namanya, Ia mengetahui yang memanggilnya adalah Rani yang disampingnya ada aku. Dia sekilas membelakangi pandangan denganku dan rani sejenak sambil memegangi kepala bagian belakangnya. Lalu membalikkan badanya kembali ke arahku dan Rani. Aku tersenyum. Joshua terlihat biasa saja kurasa, namun ia tetap menjaga tatapanya ke arahku. Akupun memberanikan diriku melambaikan tangan mengisyaratkan untuk datang mendekat. Joshua awalnya ragu, bahkan ia seperti mencari-cari seseorang dulu. Aku tak tau apakah mas Jecka? Tapi aku berfikir memangnya untuk apa?. Joshua akhirnya datang mendekat.
            “Belum mau pulang?” Tanya Joshua padahal belum menyelesaikan langkahnya. Dia berhenti dengan memilih jarah mungkin sekitar 1 meter. Aku tak tau. Apakah aku bau?
            “Iya bentar lagi kan motonya udah bisa keluar”
            “Iya soalnya ada yang bantu ngeluarin motor haha” Ejek Rani. Joshua tertawa ringan, aku juga.
            “Cepet pulang itu udah ditungguin” Ucapnya sambil mengisyaratkan ke arah mas Jecka . Mas Jecka sesekali melihat kami saat itu .
            “Joshua apa sih ih nyebelin” Jawabku dengan nada bahwa aku tak suka.
            “Bukanya pulang bareng?”
            “Kan aku sama Rani, kok bareng sih”
            “Dianter dari belakang?”
            “Engga”
            “Pacarmu kan?”
            “Bukan ya ampun” Setelah jawabanku itu, Joshua terlihat seperti telah menyadari sesuatu hal. Ia pun melangkah mendekat ke arahku. Disampingku.
            “Mau pulang kapan El?”
            “Bentar ah, males dirumah”
            “Mau aku ajak?” Joshua lalu menoleh ke arah Rani yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kita. Rani pun langsung paham maksud Joshua dan langsung pergi.
            “Yaudah El, Josh aku pulang duluan ya” Pamit Rani. Joshua kembali menatapku
            “Kan aku belum jawab mau”
            “Tapi kamu pasti mau” Joshua tersenyum sambil mengisyaratkan untuk mengikutiya. Aku mengikutinya dibelakang dan menuju motornya Joshua. Ada mas Jecka ketika kami berjalan. Joshua tidak menghiraukanya, namun aku tidak bisa mengabaikan tatapan mata mas Jecka yang mengikutiku melangkah bersama Joshua. Aku menatapnya sebentar , sampai aku melewatinya , lalu aku palingkan tatapanku darinya. Hari itu,adalah terakhir kalinya mas Jecka menungguku di parkiran sampai aku pulang.
            ***
            Aku naik motor bersama Joshua. Di perjalanan kami masih diam, entahlah mungkin karena ini pertamakalinya kami naik motor bersama. Setelah beberapa menit akhirnya sampai di tempat tujuan Joshua. Aku diajak ke sebuah taman Kota. Disana kami membeli es teh cup dan sosis bakar lalu mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Tepat dibawah pohon.
            “Rumahmu mana si ell?”
            “Aku kost Josh, jauh sekitar satu jam dari sini”
            “Oh gitu, jadi ga keburu-buru pulang kan?”
            “Engga sih, kenapa? kamu mau ajak sampe malem? Dih”
            “Kamu mau?”
            “Engga lah”
            “Kamu boleh keluar malem, tapi sama aku”
            “Kenapa sama kamu”
            “Karena aku yang bakal jagain”
            “Emang harus kamu?”
            “Emang siapa lagi?”. Ketika Joshua bilang seperti itu aku langsung berfikir mas Bobby.
            “Engga ada. Hahaha” Karena nyatanya mas Bobby memang tidak ada disini.
            Awal dari percakapan kita hanya sekedar bercanda-canda saja. Lalu kami diam beberapa menit, entahlah. Saat itu aku sedang menikmati kerumunan orang yang ada di sekitar taman.
            “Ell?”
            “Iya?”
            “Jadi kamu bukan pacarnya Jecka?” Joshua bertanya dengan nada sangat berhati-hati
            “Bukan, kok kamu bilang begitu?”
            “Karena kayaknya kamu deket sama dia”
            “Engga ada apa-apa” Aku terdiam setelah itu, entah apa yang aku fikirkan. Ohh aku berfikir dengan keadaan mas Jecka saat melihatku berjalan dengan Joshua tadi di parkiran. Aku berfikir apakah aku harus menjelaskanya? Tapi menjelaskan apa? Toh mas Jecka bukan orang yang harus aku pedulikan, dan tentu saja akupun juga bukan yang harus ia pedulikan. Tapi entahlah. Tiba-tiba Joshua bertanya kembali kepadaku.
            “Kalau Danang?” Aku terkejut setelah mendengarnya.
            “Hah? Siapa Danang?” Aku tak tau siapa Danang, kenapa ia berkata seperti itu?
            “Haha, bukan apa-apa. Kalau Dika?” Joshua kembali bertanya dengan sangat hati-hati
            “Dika teman sekelasku? Ya engga lah. Kamu kenapa sih Josh?”
            “Hmmm bukan apa-apa hehe” Joshua tertawa terkekeh lalu tersenyum senang sekali, Aku pun ikut tersenyum melihatnya walaupun aku tak tau alasanya.
            “Kamu kenapa sih Josh haha”
            “Bukan apa-apa” Joshua berkata sambil mempertahankan senyum senangnya tadi, dan untuk pertama kalinya ia mengusap rambutku dan terhenti sejenak di belakang kepalaku. Tapi hanya sebentar. Aku tersenyum malu karena tingkahnya. Saat itu aku tak mengerti aku ini malu atau senang, tapi aku tersenyum saat itu. Andai waktu itu bisa kuulang lagi, asal kamu tau, senyum Joshua saat itu, manis sekali.
            Setelah percakapan itu kami diam sejenak. Aku yang masih mencerna segala tingkah Joshua hari ini, dan mungkin Joshua yang mencerna jawaban dari semua pertanyaanya kepadaku. Aku mencoba mencairkan suasana. Sosis yang aku beli tadi tinggal satu. Aku mau kasih ke Joshua. Dengan keadaan masih lengkap dengan tusuk sosisnya aku mengarahkanya ke Joshua yang sedang melihat kerumunan. Joshua pun menyadari tawaran Sosis yang aku kasih. Bukanya ia langsung mengambilnya. Tapi justru langsung memakanya dengan posisi masih ku pegang. Tunggu dulu, aku tidak siap dengan hal ini. Baru tadi aku tersipu malu Joshua memegang rambutku, sekarang malah terkesan aku menyuapinya. Tentu saja aku tambah malu saat itu. Aku mengangkat kerah jaketku untuk menutupi bibirku yang tidak bisa menahan senyum. Aku pun mengalihkan pandanganku dari Joshua. Awalnya aku malu, tapi ketika aku memberanikan diri melihat Joshua, aku terpaku dengan keadaan Joshua yang menatapku, ia menutupi mulutnya dengan tanganya sepertinya ia juga menutupi senyumanya saat itu. Aku menatapnya sejenak, lalu menundukan pandanganku.
            “Ell, aku antar kamu ke kost”
            “Iya Josh” Aku segera berdiri saat itu. Tapi Joshua bukanya berdiri, dia masih dalam keadaan duduk lalu melambaikan tanganya menandakan memintaku untuk menariknya. Tentu saja lalu aku menariknya untuk segera berdiri. Joshua berdiri, tepat dihadapanku. Joshua memang tinggi, atau aku yang pendek. Wajahku tepat berada di dada Joshua, mungkin hanya berjarak beberapa cm. Hingga aku bisa merasakan lebar dada Joshua saat itu.
***
            “Josh, kamu bisa setinggi ini makan apa?”
“Makan hati, hahaha”
“Serius, aku pengen”
“Pengen aku?”
“Pengen tinggi Josh”
“Nanti kalau udah waktunya tinggi juga tingi”
“Tapi kapan”
“Ya kalau ga tinggi-tinggi ya udah segitu aja”
“Joshua”
“hahaha” Aku menikmatai setiap percakapanku dengan Joshua, dia selalu membuat suasana untuk terus ada hal yang menarik untuk dibicarakan. Aku pun nyaman dengan apapun yang aku bahas bersamanya.
Setibanya di depan kost, aku segera turun dari motor Joshua.
            “Udah, makasih udah dianter”
            “Iya, sana masuk dulu” Aku langsung melangkah menuju sampai pintu masuk kostku. Ku lihati Joshua. Lalu dia pergi dengan motornya sambil melambaikan tangan khas Joshua, tanda berpamitan. “Hati-hati” kataku dalam hati sambil melihatinya pergi.

3 komentar: