SMA N 2, sebuah SMA favorit tetapi masih kalah favorit sama SMA N 1 tentunya. Bukan sebuah keinginan sendiri bersekolah disini karena ini adalah keinginan orang tua dan hasil geseran karena tidak diterima di SMA 1 itu jelas. Hari ini adalah hari pertamaku mengikuti Orientasi sekolah. Aku tidak telat sebenarnya , hanya saja bingung mencari ruangan, sampai aku putuskan bertanya kepada segerombolan kakak kelas yang terlihat sibuk membahas sesuatu yang penting.
“Permisi
kak mau bertanya” tanyaku lirih yang diabaikan kecuali satu orang lelaki,
tinggi.
“Gimana dek?.” Responya
sambil menghampiriku.
“Mau tanya kak, ruang
dua disebelah mana ya.?”
“Dilantai dua sana
dek.?” Jawabnya sambil menunjuk arah ke atas menuju lantai dua.
“Terima kasih ya kak”
“Semangat ya dek.?”
Ucapanya sopan.
“Hhhhmm,dia baik”
ucapku dalam hati sambil langsung menuju ruangan . Biasalah murid baru, takut
telat padahal masih kurang 15 menit.
Tiba
di kelas aku mencari bangku kosong sampai ada yang melambaikan tanganya
mengisyaratkan untuk duduk di sampingnya.
“Disini aja sama aku”
Ucapnya setibanya aku duduk di kursi sebelahnya” Namanya Ika, teman pertamaku
di SMA ini. Obrolanku sama Ika seperti pada umumnya obrolan murid baru ketika
kenalan. Sampai tiba-tiba hening sesampainya ada 2 kakak OSIS yang memasuki
ruangan ingin memberikan materi pengenalan Sekolah. Ya seperti inilah orientasi
di Daerahku, hanya pengenalan berupa materi karena dari pusat daerah dilarang
diadakanya perpeloncoan. Mataku tertuju
kepada salah satunya, yang ternyata dia adalah orang yang aku tanyai di depan
tadi.
“Oh dia OSIS, keliatan
sih, kalau dia murid yang aktif” Ucapku dalam hati. Dia melihatku juga,
sepertinya berfikiran sama bahwa aku yang menanyakan pada dirinya tadi, lalu
dia tersenyum sopan, aku menyadarinya lalu memalingkan tatapanku.
“Sial, nanti dikira
adek kelas ganjen lagi natapin kakak kelas” ucapku setengah malu, tapi tidak
terlalu aku pikirkan
Perkenalan murid baru
dengan cara maju di depan kelas sambil memperkenalkan diri. Tiba giliranku
memperkenalkan diri
“Nama saya Ellie Namira, dari SMP Cempaka Sari.”
Singkat padat dan aku langsung kembali
duduk.
***
Pembagian
kelas dibagi sesuai hasil tes pembagian kelas, sesuai dengan apa yang
diharapkan orang tua ku, Aku masuk
di kelas unggulan di SMA ini. Awalnya biasa saja, namun terpaku dengan sebuah
nama yang ada di daftar kelas , “Ika Ramadani” dia sekelas sama aku, syukurlah
ada orang yang sudah ku kenal lebih dulu.
Kelas unggulan di sekolah ini adalah kelas Bilingual, dimana dalam
pembelajaran menggunakan 2 bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
“El,
kita sekelas” ucap Ika sambil menepuk dari belakang.
“Iya,
syukurlah, nanti kita satu meja ya.”
“Iya
siapp, ke kantin yuk aku laper.” Aku mengangguk ajakan Ika untuk ke kantin.
Sambil berjalan ke kantin aku melihat kakak kelas yang mengisi orientasi di
ruanganku, dia tertawa bersama teman-temanya. Dia tidak melihatku, tapi
tatapanku diketahui oleh Ika.
“Diliatin
mulu, ganteng ya.”
“Bening sih, dulu aku tanya ruangan sama dia”
“Kamu
suka?.”
“Anjir
murid baru macam apa baru juga pembagian kelas diumumin langsung naksir kakel,
engga lah” Ucapku sambil ga habis pikir kalau bener-bener ada murid baru kaya
gitu.
“haha..
iya iya, kamu dari awal aku kenal juga udah keliatan kalau belum pernah
pacaran.”
“Anjir,
haha. Udah ayo makan.” Ajakku sambil makan gorengan yang ada di meja makan.
“El,
kamu dilihatin kakak yang tadi.”
“Kakak
siapa?.”
“Yang
kamu liatin tadi, dia kesini deh kayanya.”
“Ngapain?.”
“Dek
Ellie?.” Sapanya menebak nama dan masih berdiri.
“Iya
mas, gimana?.” Hal yang saya pikirkan adalah dia memperhatikan namaku..
“Kamu
kelas Bilingual ya, selamat ya, kelas kita sebelahan.” Bingung mau jawab apa
saya hanya tersenyum . “ Yaudah aku balik duluan ya, selamat makan. “ Pamitnya
lalu pergi meninggalkan kantin.
“widihhh,
baru aja masuk.” Ejek Ika
“Apaan
sih biasa aja kok.” Jawabku karena menurutku itu adalah hal yang wajar.
***
Sejak awal masuk
sekolah aku memutuskan tidak hanya untuk belajar pulang belajar pulang, aku
ingin mengikuti kegiatan yang sekiranya bisa meningkatkan skill ku dan tentu
saja juga mempertimbangkan pembagian waktu dengan tujuan utamaku belajar. Aku
sejak awal dikasih tau sama kakakku untuk tidak mengikuti extrakulikular yang
menghambat pulangku. Iya sekolahku dengan waktu perjalanan 1 jam dari rumahku,
jadi otomatis aku kost, pulang pun seminggu sekali, karena itu kakakku tidak
mau waktu pulangku terhambat dengan kegiatan osis, ambalan, rohis dll. Dan aku memutuskan mengikuti extrakulikular
English Debatte dan Drumband. Aku
sebenarnya tidak pandai bermusik, kata kakakku itu untuk penyeimbang otakku
agar tidak terlalu berat di pelajaran. Sedangkan English Debatte, yahh aku sudah diajari Bahasa Inggris sejak dini
walaupun sebenarnya aku membencinya,
tapi itulah yang aku kuasai.
Hari pertemuan perdana
ku dimulai di Extrakulikular drumband dan pemilihan alat yang akan dipakai,
sayangnya Ika tidak mau kuajak . Tidak mau katanya lebih baik main keluar.
Temanku di Drumband ada Rani, dia cantik, cerewet, banyak orang yang
menyukainya , berbeda denganku yang pendiam dan lebih menjaga bicara terutama
dengan laki-laki. Aku di drumband ingin menjadi mayoret, menurutku itu keren.
“Kamu mau ambil el?”
Tanya Rani
“Aku pengen jadi
mayoret deh , kamu?”
“Aku pianika lah”
Giliran Rani maju untuk
menulis list di depan dan dia mengambil pianika, setelah itu aku.
“Ayo ellie maju, kamu
pengen ambil apa tulis di list depan”, kata guru drumbandku, Mas Agus
dipanggilnya walaupun dia guru, dia
masih muda, jadi mudah akrab dengan siswanya.
Ketika maju saya
menulis di list mayoret, setelah selesai menulis aku langsung kembali duduk, lalu langkahku berhenti
ketika mendengar panggilan dari Mas Agus.
“Tunggu, kamu mau jadi
mayoret? Jangan kamu jangan kamu “
Spontan saya manyun ke
mas agus tapi aku tau dia tau yang
terbaik, aku terlalu pendek
katanya. Sedih sebenarnya, sangat sedih. Setelah itu saya merubah list alatku
ke Belira, karena menurutku pianika itu jorok, haha. Lalu saya kembali duduk.
Disampingku Rani
setelah aku duduk ia kembali maju kedepan menghadap Mas Agus dan berkata “ Mas
aku mayoret ya” ijin rani
“ Iya boleh” Ucap Mas
agus sambil mengisyaratkan menulis di papan.
Lalu Rani kembali duduk
disampingku sambil menoleh kepadaku dengan meringis yang menyebalkan.
“I’m fine sis, I’m fine” Ucapku Ironi
Itu benar-benar moment
yang sangat menyebalkan antara keinginanku yang sudah sangat diketahui oleh
sahabatku itu namun ia mengambilnya dengan senyum meringisnya. Haha. Tak apa
kami masih sangat berteman baik saat itu.
***
Hari berikutnya di
pertemuan perdana English Debatte. Di forum suasananya agak tegang, tenyata
akan langsung pemilihan perwakilan untuk lomba debate Bahasa Inggris tingkat
SMA se Kabupaten. Suasana tidak terlalu ramai , karena ternyata dipanggil yang
sekiranya bisa mengikuti. Disana aku
ngobrol dengan beberapa kakak kelas. Namanya kak Tika dan kak Evi.
‘’Sumpah sih tu anak
kalau dirumah itu cuman nonton TV, kok bisa pinter gitu ya?” kak Evi heran.
“Tau tu anak, padahal
kakaknya aja beda 180 derajat sama dia” Tambah kak Tika
Kak Tika adalah
kakaknya Ika teman sekelasku, aku
lumayan banyak cerita tentang dia kalau kak Tika itu orangnya cerdas.
“Kak Tika kata Ika
kakak itu rangking satu terus ya” tanyaku
“haha, itu bukan
apa-apa dek, masih kalah sama Jecka dia tu rangking pararel terus sejak kelas
1” Jawabnya
“Kamu ellie ya, temenya
Ika, ohhh kamu yang namanya ellie” tambahnya lagi yang seperti melihat harta
karun yang selama ini ia fikirkan, entahlah aku tak mau berfikir panjang.
“hehe, iya kak” jawabku
singkat
Tiba-tiba Pak Novi
pembimbing debat memanggilku, spontan aku langsung mendekat.
“Ini tolong anterin
surat dispen ke kelasnya Jecka kelas XI Ipa Bilingual” suruhnya
“baik pak”
Aku berjalan-jalan
menuju ke ruang kelas yang bersebelahan dengan kelasku sendiri, sampai aku
berada di depan kelas bertuliskan papan XI Ipa Bilingal, lalu aku mengetuk
pintu.
“Permisi pak, ini ada
surat dispen atas nama Jecka Pratama”
“Kamu pacarnya Jecka?”
mungkin karena aku gugup kata itu ditelingaku menjadi “Kamu mencari Jecka?”
“iya pak” jawabku sesuai pertanyaan yang aku
dengar.
Spontan seluruh kelas
bersorak seperti melihat pemain bola yang didukungnya memasukkan bola ke
gawang, aku memasang wajah
kebingungan sebenarnya apa yang terjadi, kupikir ada yang salah dengan
penampilanku, namun setelah kulihat-lihat lagi tidak ada yang salah. Sampai
bapak itu mengisyaratkan untuk diam dan bertanya sekali lagi.
“Kamu pacarnya jecka?”
tanyanya sambil terengah-engah habis tertawa
“Eh bukann pak, mas
Jecka yang mana saja gak tau” Jawabku mulai mengerti apa yang baru saja
terjadi.
“ tadi katanya iya, nih
jek, dicari cepet keluar” Perintah pak Joko
Pak Joko itu guru
matematika yang menyenagkan, beliau biasanya menyelipkan candaan dalam belajar
seperti tadi, ia adalah guru yang masih terkenang sampai sekarang.
Aku melihat-lihat
sekeliling kelas sambil mengamati mana yang namanya Jecka, yang tadi
dibicarakan kakak-kakak di perpus, dan yang baru saja menjadi bahan candaan di
kelas.
Lalu seseorang berjalan
menuju kedepan, menuju kepintu kelas, menghampiriku. Spontan aku kaget, wajahku
memerah dan kututupi dengan buku yang aku bawa. Ternyata Jecka adalah kakak
yang pernah kutanyai waktu MOS kemarin. Menjadi hal lucu kembali, kelas pun
kembali bersorak melihat wajahku yang merah. Dan kak Jecka meringis berjalan
menatapku , seperti menertawaiku. Ahh aku langsung keluar kelas , tak tahan
lagi menahan malu yang ditimpakan padaku.
Berjalan menuju ke
perpus, aku dibelakangnya, melihat belakang tubuhnya yang tinggi, dan tanda
lahir dibagian lehernya yang menurutku lucu. Kami diam, iya mungkin malu dengan
apa yang barusan terjadi. Namun lucu melihat seorang laki-laki bisa malu dengan
hal seperti itu haha.
***
Sesampainya di perpus
kami diseleksi satu-satu untuk debat menggunakan Bahasa Inggris. Setelah itu
langsung diumumkan siapa yang akan mengikuti lomba mewakili sekolahan. Alhasil
yang maju adalah Kak Tika, Kak Evi dan aku. Yang benar saja, aku satu-satunya murid baru belum genap
satu bulan sudah diikutsertakan mengikuti lomba. Kak Jecka tidak lolos seleksi
menjadi tim inti namun menjadi cadangan, terlihat sekali bahwa ia tidak niat di
bidang ini meskipun akademiknya sangat baik.
Selesai dari seleksi
debat tersebut, kami memutuskan untuk beristirahat bersama ke kantin. Kak Jecka
cowok sendiri diantara kami, awalnya aku merasa aneh dengan hal tersebut, tapi
ternyata mereka adalah 3 serangkai dengan otak ter encer di SMA di angkatanya,
dan terlebih ternyata mereka satu desa, dari TK sampai SMA satu sekolahan.
“El kamu udah punya
pacar?” Tanya kak Tika tiba-tiba
“Ah engga mba, belum
pernah” jawabku sambil malu-malu
“Wahh bakal susah jek”
kak Tika sambil melirik ke kak Jecka
“Apaan sih “ Elakan
kak Jecka sambil melempari kacang polong
ke Kak Tika
Aku tertawa, melihat
mereka bertiga. Bisa-bisanya menjaga persahabatan sampai SMA.
“El, aku sama Tika
balik kelas dulu ya, kamu mau balik ngga” Tanya kak Evi
“Engga kak aku di sini
dulu aja masih pengen minum kopi”
Kak Evi dan Kak Tika
pergi, tapi mas Jecka masih berdiri bersandaran tembok kantin dari tadi sambil
makan kacang polong yang ia bawa.
“Cewek tuh jangan kebanyakan
minum kopi ga baik” Katanya sambil makan kacang polong
“Ini tu udah keturunan
dari mama papa semuanya minum kopi” jawabku
“Ngeyel kamu” Kata kak
Jecka sambil melempari kacang polong ke arahku, and you know what? Kacangnya
masuk ke dalam gelas kopiku.
“yahh kakk Jecka” Aku
menggerutu sambil melihatnya yang justru ketawa.
“Yaudahlah aku mau
balik kelas aja, mas Jecka resee” Aku langsung meninggalkan kantin dan menuju
ke kelas.
***
Tau sendiri kan betapa
bahagia penghuni kelas ketika jam kosong. Para kerumunan wanita yang ber selfie
ria karena gembira murid baru yang memakai baju Osis SMA. Dan para pria yang
menggerombol menjadi satu entah ngapain aku tak mau tau, karena kupikir pasti
menjijikan. Namun semua itu bisa ditenangkan dengan menonton film yang
ditancapkan ke LCD, seketika Penghuni kelas akan langsung duduk menempatkan
diri, duduk manis, tenang, dan memperhatikan. Lucunya lagi ada satu atau dua
orang yang langsung menempatkan diri dekat pintu untuk menjaga situasi aman.
Kami suka film horror, karena hanya film ini yang bisa menjadikan kami tenang
walaupun akan tiba-tiba teriak karena kaget dengan sound effect dari film
ataupun waktu adegan setanya muncul.
Saat itu ada seseorang
masuk ke kelasku, Kelas tetap dalam suasana menonton film karena itu bukan
Guru, tapi kakak kelas, kak Jecka. Aku awalnya tidak sadar, tapi entah
bagaimana tiba-tiba ia sudah ada di depan mejaku.
“Ini minum, buat ganti
kopimu tadi, maaf ya” kata kak Jecka sambil meletakkan susu kotak di meja tepat
di depanku.
“Minum dong” suruhnya
lagi, aku lalu menancapkan sedotan lalu meminumnya. Belum aku ngomong sepatah
katapun.
“Enak kan, udah minum
susu aja, jangan kopi” tambahnya lagi, aku hanya menganggukkan kepala seperti
di kasih nasehat dari seorang kakak ke adiknya. Sebenarnya aku heran apa yang
dilakukanya, apa yang ia tunggu, menunggu susu yang kuminum habis kah atau
gimana aku tak tau, dan apa pedulinya aku minum kopi, toh susu ini tidak akan
mengubah fikiranku untuk tidak mencintai kopi. Kak Jecka malah ikut menikmati
film di LCD bukanya langsung balik ke kelas karena ini adalah jam pelajaran,
yah walaupun kelas kita dekat.
Sekelas tiba-tiba menyuarakan kata “ciee” yang
tidak bersamaan, membuat ramai kelas yang awalnya tenang menyaksikan adegan
film horror.Aku tersenyum malu lalu wajahku memerah dan menundukan kepala. Kak
Jecka hanya tertawa, aku heran arti tertawanya, tertawa yang menatap mataku
lalu memalingkan pandangan kesamping atau kebawah lalu melihatku lagi setelah
itu tersenyum, selalu seperti itu tertawa yang ia berikan kepadaku sejak awal
aku mengenalnya.
“Aku balik kelas dulu
ya” pamit kak Jecka
“Iya mas, makasih
susunya” jawabku
Pikirku kak Jecka hanya
ingin mengakrabkan diri denganku karena kita satu tim debate, karena aku satu-satunya
di tim yang mungkin menurut kak Jecka baru.
***
Saat itu pulang sekolah
dan di parkiran, hal yang menyebalkan ketika di parkiran adalah menunggu motor
bisa keluar dari tempatnya karena terpenuhi motor-motor yang lain. Aku berada
di pojok parkiran, disana ada tempat duduk, aku duduk disitu memantau motornya
Rani bisa keluar atau belum. Aku berangkat sekolah bersama Rani, karena rumah
kami satu arah. Waktu itu tak sengaja aku melihat kak Jecka ,ia sedang menaiki
motornya bersiap-siap mau keluar tapi masih menunggu. Entah kenapa aku
memandanginya. Iya kak Jecka itu ganteng, putih tinggi. Aku baru menyadarinya
saat itu. Lalu mas Jecka tertawa, aku tersenyum melihat tertawanya , ia manis
ketika tertawa, sampai aku penasaran apa yang ia tertawakan. Ia ternyata
memandangi spion motornya dan baru aku sadari spionya mengarah ke arahku. Yang
benar saja, dari tadi aku memandanginya ternyata ia mengetahuinya. Aku malu,
sangat malu, mataku terbelalak lalu memalingkan wajahku, sesekali kulirik lagi,
ia masih melihatiku.
Kak Jecka belum pulang
juga padahal ia sudah bisa keluar, sampai motornya Rani bisa keluar lalu aku
pulang, kak Jecka baru ikut keluar parkiran. Selalu seperti itu sampai suatu
hari semua itu berubah. Tapi bukan sekarang.
***
Aku dikamar, diatas
Kasur . Aku punya banyak buku catatan, dan banyak alat tulis, dan juga
peralatan menggambar. Aku suka menulis, dari kecil aku disuruh menulis oleh
kakakku disuruh membuat daily activity dan setiap minggunya dibaca kakakku,
lalu dibenarkan penulisan yang benar. Alhasil sekarang jadi suka menulis
walaupun begitu tulisanku tetap jelek haha. Aku punya kakak, ia sangat
berpengaruh dengan bagaimana adanya diriku sekarang ini. Ia yang mengajariku
Bahasa Inggris, dan mengarahkanku untuk terus menulis dan membaca. Apa yang ia
lakukan pun kadang ingin ku ikuti. Aku dan kakakku sama-sama suka kucing dan
coklat. Seberapa kami suka kucing? Ketika berpapasan di jalan ketika naik motor
kami menyapa nya. Entah berkata “hay, pus, hallo” haha. Dan ketika jalan
menemukan kucing kami berusaha memberinya makan. Kami sangat menyayangi kucing,
bagi kami kucing adalah makhluk tuhan paling lucu yang Tuhan ciptakan, kadang
kami heran jika ada orang yang mengaku tidak suka kucing, kami beranggapan
orang-orang itu rugi. Aku sangat merindukan kakakku. Namanya mas Bobby. Ia
dimana sekarang ? ia tugas kedinasan menjadi POLRI sejak aku masih SMP kelas 1.
How much I miss him, aku sering depresi sendiri ketika aku sedih tidak ada yang
menemani, iri kadang melihat teman-teman yang bisa dekat dengan saudaranya. Aku
punya saudara tapi berasa anak tunggal. Dan yang lebih menyebalkanya lagi
keluarga besarku selalu membanggakan mas Bobby. Padahal di nilai akademik
sekolah aku lebih melampauinya, yah mau gimana lagi, semua itu kalah dengan
kakakku yang sudah sukses di usia muda, bahkan ia turut serta membiayai
pendidikanku sampai sekarang.
Aku selalu mencari
motivasi dari luar untuk menggantikan kakakku, dan di SMA aku bertemu kak
Jecka. Aku bercerita dengan buku catatanku aku menuliskan kak Jecka di bukuku.
“
Ada seseorang lelaki, ia yang memang perhatian atau aku yang terlalu menganggap
lebih? Dia pintar, tampan, baik. Dia sempurna kurasa. Kata orang masa SMA itu
masa paling indah karena akan merasakan cinta Pertama. Apakah ini yang namanya
suka? Haha, berhayal apa aku ini. Orang seperti dia? Denganku? Kurasa tidak. “
Apakah menurutmu aku
langsung menyukai kak Jecka? Tidak, aku hanya menjadikan ia motivasi diriku
sendiri untuk menirunya, maksudku dalam hal akademik. Hanya itu percayalah,
tidak lebih. Karena jika kamu mengerti, aku sangat membutuhkan orang yang nyata
dapat terlihat untuk menjadikanku kuat menjalani ini. Sebagai adik yang tanpa
kakak disampingnya.
***
Setelah pulang sekolah
aku tidak langsung pulang tapi langsung latihan persiapan lomba debate, yah di
dalam debat kita mendiskusikan argument yang bagus untuk lomba. Sebenarnya aku
takut, karena dari zaman belanda yang menjadi juara satu adalah SMA N 1. Kenapa
dari zaman belanda? Iya sekolah itu memang sudah dari zaman Belanda haha. Sekolah
ku ini sebenarnya Gedung 2 dari SMA N 1 , namun karena perkembangan zaman,
dijadikanlah menjadi SMA N 2. Aku tidak mau pusing, lomba ini akan kujalani
semampuku, semampuku disini bukan berarti aku malas, namun tidak akan
memikirkan sampai menghabiskan waktu belajarku untuk mengurusi argument debate
atau berambisi menjadi juara satu, aku tidak akan berfikir kesitu, toh sudah
kalihatan siapa yang akan menjadi juara satu.
Setelah latihan kak Evi
dan kak Tika pulang. Aku menuju kantin ingin minum kopi “awalnya” sambil
menunggu waktu latihan drumband. Kak Jecka mengikutiku sambil bingung melihatku
yang tidak pulang. Akupun juga bingung kenapa kak Jecka mengikutiku.
“Kak Jecka itu suka
sama aku ya” kataku sambil membalikkan badan menoleh kebelakang dengan nada
agak keras merasa risih diikuti setelah kemarin datang ke kelas tiba-tiba.
“Ihh PD sekali kau dek”
Jawabnya dengan raut wajah menyebalkan. Aku tak mau menanggapinya lagi dan
langsung menuju ke kantin memesan kopi dan soto. Aku duduk, dan kak Jecka juga
memesan es jeruk dan soto. Setelah itu ia duduk di depanku. Aku menatapnya
sambil makan sotoku, ia juga menatapku , kita sama-sama kebingungan kenapa
msing-masing dari kita tidak pulang. Tiba-tiba saja ia menukar minuman ku
dengan minumanya. Aku tak bicara lebih karena aku tau maksudnya, dan aku sangat
lapar dan meneruskan makanku, kami makan bersama.
“Kamu
kok ga pulang dek?” Tanya kak Jecka
“Langsung
drumband mas, males bolak balik” Jawabku sambil minum es jeruknya
“Oh
ya? Kamu pegang apa?” Tanyanya
“Belira,
mas Jecka juga ikut drumband, pegang apa?” aku balik Tanya
“Senar
drum, kok panggil mas? Tanyanya sambil agak menahan senyum
“hmmmm”
Aku diam malu menjelaskan bahwa itu panggilan untuk kakakku. Dia hanya
tersenyum. Setelah itu sampai sekarang aku memanggilnya mas Jecka.
Latihan
Drumband berlangsung, awalnya aku kurang
fokus karena ternyata satu ekskul dengan mas Jecka. Namun, aku lalu berfikir
bahwa aku harus memberikan yang terbaik. Latihan drumband berada di dalam
ruangan, karena kami baru latihan musik yang akan dimainkan. Sesekali aku
melihat mas Jecka, ia langsung menyadarinya, dan tersenyum.
***
Aku lelah setelah seharian dengan
kegiatan yang begitu banyak, aku membaringkan diriku di Kasur. Memainkan HP
seperti pada umumnya kaum milenial zaman sekarang yang selalu aktif bermain
sosmed . Aku membuka Facebook ku, sebenarnya sudah jarang aku menggunakanya,
tapi untuk mencari seseorang menurutku lebih efektif dari Facebook. Iya, aku
sedang mencari akunya mas Jecka, entah dari kapan aku semakin penasaran
terhadapnya. Mengetikan nama Jecka Pratama , dan langsung ketemu akunya. Disitu
tertulis tanggal lahirnya 13 Mei 1997. Ada nomer telefonya dan entah dorongan
dari mana aku simpan nomernya.
Menurutku nomer di Facebook adalah nomer lama, jadi aku tak yakin bahwa itu
benar-benar nomernya. Namun aku iseng mencoba untuk menelfonya dan kagetnya
aku, panggilanku berdering. Aku langsung mematikanya, aku takut nanti dikira
aku menyukainya. Ya ampun tidakk, tanganku gemetaran, aku takut. Sepertinya ia
langsung menyimpan nomer yang telah menelfonya lalu dilihatnya di WA, dan dia
langsung paham itu fotoku.
“Dek Ellie?”
“Iya mas, hehe”
“Dapat nomerku dari mana”
“Itu di pampang di FB, biar apa
coba”
“Masa sih, yaudah nanti aku privat”
Setelah
itu mas Jecka mengajak chattingan dengan santai. Ia tidak menanyakan tentang
seluk beluk nomernya yang kudapat. Percakapan kita seperti percakapan biasa
seperti sedang apa sampai ucapan selamat tidur yang membuat aku senang tak
terkira.
“Selamat tidur dek Ellie”
Sederhana,
namun aku senang. Awalnya aku berfikir semudah itu kah menjadi sedekat ini?
Atau memang mas Jecka begitu ke semua orang? Haha aku tak mau berfikir panjang.
***
Lomba Debate Bahasa Inggris telah
tiba, aku tidak mau membahasnya terlalu banyak, aku cukup menceritakan hasilnya
saja. Sekolah kami berhasil meraih Piala Juara 3. Biasa saja menurutku karena
sudah turun termurun mendapatkan juara tersebut. Yang mau aku ceritakan adalah
aku tau seseorang yang mengenalku entah dari mana. Namun, dari aku mendapatkan
juara tersebut, ia berani menampakkan diri walaupun aku belum mencari-cari
siapa dia. Ada pesan di HP ku, pesanya lewat via SMS, klasik sekali.
Selamat ya Ellie
-Jhosua
Aku
hanya membacanya, tidak mencari-cari siapa orangnya. Bukan karena aku tidak
mau. Hanya saja saat itu aku terlalu fokus dengan kebahagiaan bersama
teman-teman satu tim ku, dengan mas Jecka juga hingga aku melupakan tentang
pesan itu.
***
Ujian Tengah Semester telah tiba.
Sistem pembagian tempat duduk ujian adalah silang yang berarti ketika ujian
nanti siswa tidak duduk dengan siswa yang satu angkatan namun dengan angkatan
lain. Aku mesuk keruang ujianku, mencari tempat dudukku lalu aku duduk dan
belajar materi mata pelajaran yang akan diujikan. Saat itu aku hanya menunduk
membaca buku. Namun ada seseorang yang juga mencari bangku tempat duduknya.
Menghitung nomer absen satu-demi satu sampai ia menemukan tempat duduk sesuai
nomer ujianya. Itu tepat di sampingku, ia entah berteriak atau kaget aku tak
tau, pokoknya suaranya keras. Teman-temanku lalu tiba-tiba bersorak seperti
ada hal yang sangat menarik .
Begitu keras sampai aku mengangkat kepalaku ada apa. Dan yang kudapati adalah
mas Jecka yang dengan tampang kaget tak percaya bahwa ia sebangku ujian
denganku. Apa aku biasa saja? Tidak, sungguh tidak. Aku juga menyuarakan
suaraku dengan keras, kaget, sungguh kaget. Dan tentu saja agak malu karena
teman-teman lain mengejek aku dengan mas Jecka. Karena sudah terkenal setelah
insiden telingaku yang salah dengar ketika mengantarkan surat dispen ke
kelasnya mas Jecka.
Kenangan muncul ketika Ujian Tengah
Semester ini. Antara tegang menghadapi ujian dan senang sebangku dengan mas
Jecka. Aku masih tak tau mengapa aku sangat senang sebangku denganya.
Kenangan yang terjadi adalah, ketika
ia merapikan rambutku yang menutupi mata, mengerjakan soal ujianku yang aku tak
bisa. Iya dia sangat pintar. Bahkan saat perangkingan saat itu dia rangking
satu Pararrel di angkatanya. Dan aku tau sendiri bagaimana ia mengerjakan
ujianya. Dan yang membuatku jatuh hati selanjutnya. Ketika kita rebutan permen
yang kubawa untuk dimakan ketika mengerjakan ujian. Aku tak percaya mas Jecka
modus atau apa. Namun ia memegangi tanganku, tidak segera melepaskanya, ia
memeganginya lama. Sampai ada salah satu orang mengetahuinya ia langsung melepaskan tanganku.
***
Kami semakin dekat saat itu. Ia yang memberikan
bekas buku pelajaranya dulu ketika masih kelas satu kepadaku sampai aku yang
menanyakan PR kepadanya. Dan mas Jecka yang menyuruhku mengerjakan PR Bahasa
Inggrisnya.
Suatu
malam ketika aku selesai mengerjakan PR Bahasa Inggrisnya aku menulis.
Kak
Jecka
Aku
suka caramu ketika berbicara denganku
Aku
suka ketika kamu yang sering memandangiku lalu tiba-tiba tertawa
Yang
merapikan rambutku yang jatuh
Aku
suka mengacak-acak rambutmu
Aku
suka…
Saat itu aku mendeklarasikan kepada diriku sendiri
bahwa aku menyukainya. Apakah cinta? Aku tak tau, aku belum pernah merasakanya.
Namun setelah itu aku selalu suka memandanginya. Bahkan aku selalu mencuri-curi
waktu hanya untuk sekedar melihatnya. Misal selalu mengajukan diri jika
dimintai tolong guru mengambilkan barang di kantor atau ada keperluan di TU,
hanya untuk melewati depan kelasnya dan melihat wajahnya. Sebenarnya aku malu,
karena setiap ada aku dan mas Jecka pasti teman-temanya menyuarakanya. Aku tak
menyatakan bahwa aku mencintainya, yang aku tau aku menyukai semua tentang dia.
Melihat wajahnya, tertawanya, memandangi tanda lahir di lehernya pokoknya
semuanya aku suka . Entah dalam arti apa. Lihat saja nanti.
***
Banyak puisi, tulisan , dan cerita
bahwa cinta itu memberikan luka. Banyak tulisan menyatakan bahwa Jika kau siap jatuh cinta, maka kamu harus
siap terluka . Mana kutahu, sungguh aku belum pernah merasakanya. Saat itu
benar-benar aku hanya menganggapnya tulisan yang terkenal. Sampai ketika rasaku
ini sampai di titik untuk meminta kepastian. Wanita itu lucu ketika masuk ke masa-masa ini. Ketika wanita
merasa dekat, ia akan ingin lebih, dan ia akan selalu mencari-cari makna dari
sebuah kedekatan. Mencari-cari arti dari sebuah kebersamaan yang sudah dilalui.
Padahal terkadang pria hanya ingin dekat sebatas teman, atau memang hanya ingin
dekat, bukan berarti kedekatan itu berujung di sebuah perasaan yang disebut
CINTA haha. Entah siapa yang salah, wanita yang terlalu terbawa perasaan, atau
pria yang memang suka mendekati banyak perempuan. Aku tak tahu, aku tidak ahli,
ini bukan bidangku. Sebenarnya aku merasa biasa saja, seperti ada teman yang
bisa kumintai tolong dan aku menyukai orang tersebut. Seperti aku suka ketika
tidak bisa dalam satu mata pelajaran aku bisa menanyakanya ke mas Jecka, kenapa
mas Jecka? Karena aku suka ketika bertanya kepadanya dari pada ke orang lain.
Awalnya biasa saja. Sampai suatu ketika ada seseorang temanku yang lebih tua
daripada aku berkata. Lebih tepatnya seperti interogasi kurasa haha.
“Kamu
deket sama si Jecka?”
“Iya,
lumayan”
“Kalian
pacaran?”
“Engga”
“Jecka
suka sama kamu?”
“Aku
gatau lah”
“Aduh
el, kamu harus hati-hati, jangan mudah didekati seperti itu kalau gaada
kepastian”
Setelah
ia berkata seperti itu, aku benar-benar memikirkanya. Konyol memang jika
difikir di dewasa ini. Namun saat itu, menurutku aku adalah seorang anak kecil
yang baru pertama kali dekat dengan pria dan menurutku aku butuh bimbingan dari
yang lebih tua seperti itu. Aku benar-benar memikirkanya, mencari arti sendiri,
namun tak juga menemukan. Namun aku masih diam, tidak mau mengumbar apa yang
sedang aku fikirkan saat itu. Dan aku menemukan sebuah jawaban. Saat itu aku
sedang di kantin, suasana yang ramai, dan ada mas Jecka beserta teman-temanya
yang selalu mengejekku dengan mas Jecka, aku baru tau namanya saat itu. Ia
adalah Bintang dan Faiz.
“Jek,
tuh ada di Ellie” Kata Bintang dengan keras, rasanya ia ingin semua orang tau
kalau ada aku disitu.
Semua
orang ikut mengejek ku dengan mas Jecka. Aku sebenarnya tidak menghiraukanya,
menurutku itu adalah hal yang bodoh untuk diberi tanggapan. Aku hanya fokus
membeli minuman lalu pergi, namun terhambat karena sangat ramai saat itu dan
harus antri membayar. Aku sekali melihat bagaimana mas Jecka menanggapinya dan
ia hanya ikut tertawa. Tak masalah menurutku, karena ia memang sedang bercanda
dengan teman-temanya.
“Jek,
makan-makan dong, pacaran ga bilang “
“Apaan
sih”
“Alah
ngaku jek, pacaran kan”
“Engga
lah, Ellie adikku”
“Alahh
kakak adek an segala”
Aku
menatap mas Jecka setelah ia menjawab bahwa aku adalah seorang adik baginya,
menatapnya dingin, sebentar lalu pergi. Setelah apa yang dijawab oleh mas Jecka
saat itu, aku tak bisa mengingat percakapan setelahnya. Aku terpaku dengan
jawaban mas Jecka yang menganggapku seorang adik baginya. Semua itu menjawab
semua yang sedang terfikirkan sejak kemarin. Bukan karena aku tak mau dekat dengan
mas Jecka sebagai adiknya, aku hanya berusaha melindungi diriku. Aku tak mau
dianggap mudah didekati oleh seseorang meskipun baru mas Jecka yang dekat
denganku.
***
Setelah pulang sekolah seperti biasa
aku di kantin terlebih dahulu, meminum segelas kopi. Lama aku tak meminumnya
karena selama bersama mas Jecka , ia benar-benar menjauhkan diriku dengan kopi.
Beberapa saat kemudian mas Jecka datang.
“Dek,
kok kamu minum kopi sih”
“Mas
Jecka apaan sih” Nadaku agak tinggi yang menjadikan mas Jecka terhenti untuk
menarik gelas kopiku. Mas Jecka terdiam seperti mengerti bahwa keadaanku sedang
tidak baik, lalu ia memesan es jeruk lalu ikut duduk di depanku.
“Ada
apa dek?”
“Ga
ada apa-apa mas”
“Kamu
gak mau cerita?”
“Emang
sejak kapan mas Jecka peduli?”
“Maksud
kamu?”
“Mas
Jecka itu anggep aku apa?”
“Tadi
kan rame dek”
“Udah
ah mas” Aku meninggalkan mas Jecka sendirian di Kantin.
Habis itu latihan Drumband seperti biasanya , hanya
saja aku tidak lagi memandangi mas Jecka , tidak lagi ke kantin bersama seperti
biasanya. Aku bersama teman-temanku, sepanjang latihan drumband. Meskipun masih
yang mengejekku dengan mas Jecka aku diam, mas Jecka masih tertawa
mananggapinya.
Segalanya berubah sejak saat itu,
aku yang tidak lagi bersama mas Jecka, atau hanya sekedar ngobrol. Tidak ada
lagi meminta bentuan mas Jecka dalam masalah pelajaran sekolah. Aku benar-benar
menjauh. Menurutmu aku begini karena kecewa mas Jecka berkata bahwa aku
adiknya? Bukan . Aku hanya benar-benar memikirkan apa yang dikatakan temanku
kemarin bahwa aku harus hati-hati. Sebagai perempuan, menjaga diri dengan pria
itu perlu, agar kamu tidak dianggap rendah nantinya. Dekat namun tidak ada suatu hubungan? Aku tidak mau
seperti itu. Itu yang ada di fikiranku saat itu.
Aku melihat ponselku karena berdering
menandakan ada pesan masuk. Itu dari mas Jecka. Mungkin hampir seminggu aku
tiba-tiba menjauh dengan mas Jecka. Mungkin dia kira aku hanya sedang bad mood
yang menandakan tidak ingin bicara lalu bisa sembuh dengan sendirinya. Nyatanya
tidak.
“Dek”
“Ada apa mas?”
“Kalau mas ada
salah, mas minta maaf”
“Gaada kok
mas, tenang aja”
“Kamu kenapa
masih marah”
“Mas kita itu
gaada hubungan apa-apa”
“Kamu gasuka
sama mas?”
“Udah lah mas”
***
Setelah itu semuanya benar-benar
berubah. Mas Jecka yang sudah tidak menanyaiku lagi, sudah tidak ada lagi mas
Jecka yang menungguku ke kantin ketika istirahat, sudah tidak ada lagi ke perpustakaan
bersama untuk belajar. Kecuali yang tersisa adalah kami masih satu
Extrakulikular Drumband, ejekan dari teman-teman tentang aku dan mas Jecka.
Karena asal kamu tau, berita itu sangat popular sampai ke guru-guru. Mungkin
karena aku dan mas Jecka adalah salah satu murid terbaik di angkatanya. Entah
mungkin guru-guru senang apabila kita bersama. Namun tidak. Dan satu hal yang
tersisa yaitu mas Jecka yang masih menungguku untuk keluar parkiran . Terus
seperti itu. Entah apa yang ia perhatikan atau aku yang terlalu PD bahwa ia
menungguku. Tapi itu nyata. Sebelum aku keluar dia tidak akan keluar duluan.
Entah hanya duduk di motornya bersama teman-temanya jika ada , bahkan hanya
sendiri. Kadang aku mendapati ia memerhatikanku lalu tersenyum. Aku juga tersenyum,
hanya menghargai sapanya. Itu saja.
Kehidupanku biasa saja setelah itu.
Aku mudah melupakan? Iya mudah. Bukankah itu menandakan bahwa perasaanku dengan
mas Jecka itu hanya kagum semata. Iya kan? Itulah yang aku sadari saat itu.
Tidak lebih dan hanya yahh seperti apa yang ia katakan. Aku mencari seorang
kakak. Kau paham juga kan. Kuharap iya.
***
Satu tahun berlalu. Sekarang aku
kelas 2 SMA. Waktu memang terasa begitu cepat. Selain pindah ruang kelas, dan ganti
Badge Kelas, menurutku semuanya tetap sama saja. Tidak ada yang berubah. Berita
mas Jecka yang mendapat rangking pararel lagi, dan dia yang masih menungguku di
parkiran, sudah biasa. Aku tidak pernah menanyakan kenapa mas Jecka seperti itu
sampai saat itu. Karena selagi ia tidak menggangguku, kurasa tak apa, toh itu
hak dia untuk melakukanya.
Waktu itu tepat ulang tahunku. Aku
berada di rumah di tempat tidurku. Merenung bahwa umurku semakin tua haha. Aku
memandangi ponselku, banyak yang mengucapkan ulang tahun. Aku bukan orang yang
suka merayakan ulang tahun sebenarnya, kuharap kamu mengerti. Semuanya kubalas
satu-satu untuk menghargai ucapan mereka. Namun terhenti dengan satu nomer yang
belum aku namai.
Selamat Ulang Tahun Ellie Nurvita.
Apapun yang terbaik untukmu.
-Joshua
Aku baru menyadarinya saat itu bahwa
orang yang bernama Joshua ini yang dulu juga mengucapkan selamat kepadaku
sehabis lomba debat ketika kelas 1. Aku baru terfikirkan saat itu. Aku tidak
membalas pesanya karena aku berniat mencarinya besok. Iya besok aku akan mencarinya.
***
Keesokan harinya, ketika istirahat
aku benar-benar mencari orang yang bernama Joshua. Mencari informasi kelas apa
dia dari teman-temanku, dan yang kudapati ia kelas IPS 1. Aku langsung menuju
kelasnya. Berfikir bahwa aku begitu berani? Aku pun begitu haha. Entahlah,
namun yang ada difikiranku saat itu, aku penasaran yang mana orang yang bernama
Joshua. Mungkin karena merasa bersalah sejak aku kelas satu aku tidak
menanggapinya. Namun bukan salahku juga, ia yang tidak menampakkan diri di
depanku bukan?.
Aku sampai di depan kelas IPS 1 .
Aku hanya diluar, tidak berani masuk kedalam. Kelasnya ramai, padahal sedang
istirahat. Awalnya aku mengira bahwa mungkin tidak akan menemuinya karena
sedang istirahat. Tapi ternyata tidak.
“Hay, ada yang namanya Joshua”
“Josh
ada yang nyariin nih” Belum juga bertanya lebih lanjut namun ia langsung
berteriak dan berkata seperti itu. Aku hampir malu saat itu.
Aku
melihat-lihat dari luar dan memperhatikan siapa yang menanggapi panggilan nama “Joshua” . Dan aku mendapati seseorang
yang sedang di pojokan duduk dibangku , mungkin sedang bercanda dengan
teman-temanya. Ia juga seperti mencari-cari siapa yang telah mencarinya. Hingga
ia mendapati tatapan mataku, dan seperti agak kaget dan langsung memalingkan
wajah. Aku tak tahu namun aku sempat melihat senyuman dari bibirnya sebelum berpaling.
Entah itu karena bertemu denganku atau memang sedang bercanda dengan
teman-temanya. Awalnya aku merasa ia tidak mau bertemu denganku karena tidak
langsung keluar kelas. Namun sebelum aku berniat pergi ia sudah turun dari
bangku dan berjalan keluar. Aku menahan senyum saat itu. Entah tidak menyangka
dengan diriku sendiri yang berani menemui seseorang yang belum pernah kukenal,
dan melihat Joshua yang juga menahan senyum dan sedikit agak malu ketika mau
menghadapku, entahlah apa yang ia
fikirkan haha. Apakah ini yang dinamakan tersipu malu? Aku tak tahu. Selucu inikah?
haha
“Hey” Sapanya pelan, sangat pelan
dan agak lirih, tapi masih mampu kudengar. Diiringi bibirnya yang menahan
senyum.
“Hey” Kusapa juga yang juga menahan
senyum juga
kurasa.
Aku tak tau sebenarnya setelah ini
apa. Aku hanya ingin tahu wajahnya namun malah berhadapan denganya langsung
seperti ini. Kami agak terdiam saling bertatapan sampai salah satu dari kami
tak kuat menahan tawa. Aku
“Kenapa”
Aku hanya menggelengkan kepala
menandakan bahwa tidak ada apa-apa.
“Kenapa mba, nagih hutangnya Joshua
ya” teriak salah satu dari dalam kelas.
“Iya, ini ditagih malah
ketawa-ketawa haha” Jawabku santai, yahh mungkin karena satu angkatan jadi aku
merasa santai dengan mereka.
“Berapa si berapa” Joshua menanggapi
dengan tertawa
“Aku cuman mau ngucapin makasih atas
ucapanya”
“Gitu doang?”
“Dih, daripada kamu cuman lewat
chat” Kami tertawa, sebenarnya itu pertama kali kami tertawa bersama. Lucunya
aku tertawa sambil memukulkan tanganku di dadanya sambil badanku agak mendekat
dan ia menghadang tanganku dengan tanganya namun tidak menolak. Kita tertawa
seperti itu . Hampir seperti itu. Joshua lalu melihat sekeliling, entah apa
yang ia cari.
“Aku antar ke kelas”
“Iya” Aku menerimanya, karena
sebenarnya aku takut berjalan sendiri. Maknya aku juga heran kenapa diriku
berani datang ke kelas Joshua sendirian.
Ketika perjalanan menuju kelasku,
sebenarnya tidak jauh, namun entah rasanya begitu lama. Entah apa yang kita
bicarakan, bukan hal yang penting sebenarnya, tapi menyenangkan.
“Josh, kamu ikut ekskul apa”
“Kita kan samaan, drumband el”
“Hah, masak?” Aku kaget dan heran
“Kamu mah liatin si Jecka mulu haha”
Awalnya aku merasa dia berkata seperti itu karena memang berita itu sudah
tersebar luas, aku juga sudah sering mendapatkan ejekan dengan mas Jecka. Jadi
aku biasa saja.
“Apaan”
“Udah ngaku haha”
“Dih, engga” aku agak menyolot dan ekspresiku
diketahui Joshua hingga ia berhenti membicarakan mas Jecka.
“Udah sampai, sana balik”
“Diusir?”
“Kan bentar lagi masuk”
“Kan bentar lagi masuk”
“Ya udah aku balik dulu” Ia
berpamitan melambaikan tangan seperti ucapan selamat tinggal, lalu mengarah
matanya kebelakang sambil melangkah pergi.
Aku ikuti arah matanya ternyata itu mas Jecka yang sedang di depan kelas
bersama teman-temanya. Ia memperhatikan Joshua yang habis bersamaku. Aku tak peduli ada apa aku langsung membalas
lampaian tangan Joshua. Itu awal mulanya aku bertemu dengan lelaki bernama
Joshua, dia tinggi, alis matanya yang lebat, dan lucu, entahlah. Dia baik padaku,
aku juga baik padanya.
Di
dalam kelas , Ika teman sebangkuku memasang wajah curiga sesampainya aku
menempatkan diri ke meja tempat dudukku.
“El
itu tadi siapa?”
“Namanya
Joshua anak IPS 1, kenapa?”
“Temen?
Saudara?”
“Kenapa
si pengen tau banget, haha”
Ika tidak melanjutkan pembicaraan tentang Joshua,
mungkin ia merasa bahwa pertanyaanya terlalu mencampuri urusanku. Ika orang
yang pandai menghargai orang lain. Walaupun sebenarnya terlihat diwajahnya
bahwa ia ingin tau lebih. Aku tak tau untuk apa, mungkin karena ia tetangganya
mas Jecka jadi ia ingin tau, tapi entahlah. Jangan sudzon hahaha.
***
Setelah aku
mengenal Joshua, entah kenapa kemanapun aku pergi aku selalu menemukanya.
Ketika aku di depan kelasku menengok ke bawah aku mendapatinya sedang di depan
kelasnya juga, apakah aku mencarinya? Entahlah. Tapi Joshua juga memandang ke
atas seperti mencari-cari seseorang sampai ia menemukan mataku dan matanya
bertemu, lalu tersenyum. Aku selalu menemukanya di kantin, dan di parkiran.
Anehnya ia tidak pernah mendekat atau bahkan mengajak bicara. Padahal menurutku
aku denganya sudah merasa dekat, sebagai teman maksudku. Tapi entahlah. Kadang
ia dikantin karena hafal pesananku, ia selalu memesankan kopi dan
mengantarkanya di mejaku, Ia juga memberikan ruang untukku ketika
berdesak-desakan ketika ingin membayar di kantin, mengambilkan jajanan yang
ingin kuambil ketika berdesak-desakan juga di kantin dan tersenyum kepadaku
setelahnya. Dan di parkiran. Tanpa kusuruh ia selalu menata parkiran di dekat
motornya rani agar kami bisa cepat keluar. Tapi disini ia tidak tersenyum
kepadaku setelahnya. Aku peka Josh, apa yang kamu lakukan sebenarnya. Aku
merasa ingin mengucapkan terima kasih setiap saat tapi Joshua tidak pernah
mendekat dan mengajak bicara.
Aku
bercerita kepada Rani tentang Joshua yang seperti itu.
“Ran,
kamu tau Joshua?”
“Anak
IPS ya? Kenapa?”
“Kamu
kenal?”
“Engga
cuman tau aja”
“Kamu
tau engga, dia itu selalu mesenin aku kopi pas di kantin, terus dia anterin
sendiri, Terus lagi ia bantu aku terus kalau lagi desak-desakan di kantin waktu
mau bayar”
“Wah-wahh”
“Terus
lagi kamu sadar engga, dia itu selalu mindahin motor- motor di parkiran biar
kita bisa cepet keluar”
“Eh
iya masak”
“Iya
ran, aneh kan. Dia ngapain coba”
“Kamu
ga pernah nanya?”
“Dia
itu ga pernah deketin terus ngajak ngobrol”
“Coba
liat deh besok”
***
Seperti
yang dikatakan Rani kemarin. Ia mulai memperhatikan gerak-gerik Joshua
terhadapku untuk membuktikan perkataanku kemarin itu benar atau tidak.Setelah
melihat tingkah Joshua di kantin yang selalu menjagaku agar aku tidak didesak
orang lain, setelah itu rani percaya.
Entahlah tapi Rani sangat senang bahwa ada seseorang yang seperti itu kepadaku.
Aku tak tahu, tapi Rani sahabatku.
“Itu
sih kayanya suka sama kamu sih ell”
“Masak
sih, tapi kok ga ngechat atau apalah”
“Kamu
ngarep?”
“Engga
gitu, aneh aja kan”
“Eh
itu liat lagi ngrapiin motor biar kita bisa keluar”
“Kan
bener kataku”
“
Makasihh Joshuaaaa” Teriak Rani, didepan banyak orang. Aku tak habis fikir
dengan apa yang Rani perbuat. Maksudku, apa yang ia inginkan.
Disana
aku melihat Joshua yang merasa terpanggil namanya, Ia mengetahui yang
memanggilnya adalah Rani yang disampingnya ada aku. Dia sekilas membelakangi
pandangan denganku dan rani sejenak sambil memegangi kepala bagian belakangnya.
Lalu membalikkan badanya kembali ke arahku dan Rani. Aku tersenyum. Joshua
terlihat biasa saja kurasa, namun ia tetap menjaga tatapanya ke arahku. Akupun
memberanikan diriku melambaikan tangan mengisyaratkan untuk datang mendekat.
Joshua awalnya ragu, bahkan ia seperti mencari-cari seseorang dulu. Aku tak tau
apakah mas Jecka? Tapi aku berfikir memangnya untuk apa?. Joshua akhirnya
datang mendekat.
“Belum
mau pulang?” Tanya Joshua padahal belum menyelesaikan langkahnya. Dia berhenti
dengan memilih jarah mungkin sekitar 1 meter. Aku tak tau. Apakah aku bau?
“Iya
bentar lagi kan motonya udah bisa keluar”
“Iya
soalnya ada yang bantu ngeluarin motor haha” Ejek Rani. Joshua tertawa ringan,
aku juga.
“Cepet
pulang itu udah ditungguin” Ucapnya sambil mengisyaratkan ke arah mas Jecka .
Mas Jecka sesekali melihat kami saat itu .
“Joshua
apa sih ih nyebelin” Jawabku dengan nada bahwa aku tak suka.
“Bukanya
pulang bareng?”
“Kan
aku sama Rani, kok bareng sih”
“Dianter
dari belakang?”
“Engga”
“Pacarmu
kan?”
“Bukan
ya ampun” Setelah jawabanku itu, Joshua terlihat seperti telah menyadari
sesuatu hal. Ia pun melangkah mendekat ke arahku. Disampingku.
“Mau
pulang kapan El?”
“Bentar
ah, males dirumah”
“Mau
aku ajak?” Joshua lalu menoleh ke arah Rani yang dari tadi mendengarkan
pembicaraan kita. Rani pun langsung paham maksud Joshua dan langsung pergi.
“Yaudah
El, Josh aku pulang duluan ya” Pamit Rani. Joshua kembali menatapku
“Kan
aku belum jawab mau”
“Tapi
kamu pasti mau” Joshua tersenyum sambil mengisyaratkan untuk mengikutiya. Aku
mengikutinya dibelakang dan menuju motornya Joshua. Ada mas Jecka ketika kami
berjalan. Joshua tidak menghiraukanya, namun aku tidak bisa mengabaikan tatapan
mata mas Jecka yang mengikutiku melangkah bersama Joshua. Aku menatapnya
sebentar , sampai aku melewatinya , lalu aku palingkan tatapanku darinya. Hari
itu,adalah terakhir kalinya mas Jecka menungguku di parkiran sampai aku pulang.
***
Aku
naik motor bersama Joshua. Di perjalanan kami masih diam, entahlah mungkin
karena ini pertamakalinya kami naik motor bersama. Setelah beberapa menit
akhirnya sampai di tempat tujuan Joshua. Aku diajak ke sebuah taman Kota. Disana
kami membeli es teh cup dan sosis bakar lalu mencari tempat yang nyaman untuk
duduk. Tepat dibawah pohon.
“Rumahmu
mana si ell?”
“Aku
kost Josh, jauh sekitar satu jam dari sini”
“Oh
gitu, jadi ga keburu-buru pulang kan?”
“Engga
sih, kenapa? kamu mau ajak sampe malem? Dih”
“Kamu
mau?”
“Engga
lah”
“Kamu
boleh keluar malem, tapi sama aku”
“Kenapa
sama kamu”
“Karena
aku yang bakal jagain”
“Emang
harus kamu?”
“Emang
siapa lagi?”. Ketika Joshua bilang seperti itu aku langsung berfikir mas Bobby.
“Engga
ada. Hahaha” Karena nyatanya mas Bobby memang tidak ada disini.
Awal
dari percakapan kita hanya sekedar bercanda-canda saja. Lalu kami diam beberapa
menit, entahlah. Saat itu aku sedang menikmati kerumunan orang yang ada di
sekitar taman.
“Ell?”
“Iya?”
“Jadi
kamu bukan pacarnya Jecka?” Joshua bertanya dengan nada sangat berhati-hati
“Bukan,
kok kamu bilang begitu?”
“Karena
kayaknya kamu deket sama dia”
“Engga
ada apa-apa” Aku terdiam setelah itu, entah apa yang aku fikirkan. Ohh aku
berfikir dengan keadaan mas Jecka saat melihatku berjalan dengan Joshua tadi di
parkiran. Aku berfikir apakah aku harus menjelaskanya? Tapi menjelaskan apa?
Toh mas Jecka bukan orang yang harus aku pedulikan, dan tentu saja akupun juga
bukan yang harus ia pedulikan. Tapi entahlah. Tiba-tiba Joshua bertanya kembali
kepadaku.
“Kalau
Danang?” Aku terkejut setelah mendengarnya.
“Hah?
Siapa Danang?” Aku tak tau siapa Danang, kenapa ia berkata seperti itu?
“Haha,
bukan apa-apa. Kalau Dika?” Joshua kembali bertanya dengan sangat hati-hati
“Dika
teman sekelasku? Ya engga lah. Kamu kenapa sih Josh?”
“Hmmm
bukan apa-apa hehe” Joshua tertawa terkekeh lalu tersenyum senang sekali, Aku
pun ikut tersenyum melihatnya walaupun aku tak tau alasanya.
“Kamu
kenapa sih Josh haha”
“Bukan
apa-apa” Joshua berkata sambil mempertahankan senyum senangnya tadi, dan untuk
pertama kalinya ia mengusap rambutku dan terhenti sejenak di belakang kepalaku.
Tapi hanya sebentar. Aku tersenyum malu karena tingkahnya. Saat itu aku tak
mengerti aku ini malu atau senang, tapi aku tersenyum saat itu. Andai waktu itu
bisa kuulang lagi, asal kamu tau, senyum Joshua saat itu, manis sekali.
Setelah
percakapan itu kami diam sejenak. Aku yang masih mencerna segala tingkah Joshua
hari ini, dan mungkin Joshua yang mencerna jawaban dari semua pertanyaanya
kepadaku. Aku mencoba mencairkan suasana. Sosis yang aku beli tadi tinggal
satu. Aku mau kasih ke Joshua. Dengan keadaan masih lengkap dengan tusuk
sosisnya aku mengarahkanya ke Joshua yang sedang melihat kerumunan. Joshua pun
menyadari tawaran Sosis yang aku kasih. Bukanya ia langsung mengambilnya. Tapi
justru langsung memakanya dengan posisi masih ku pegang. Tunggu dulu, aku tidak
siap dengan hal ini. Baru tadi aku tersipu malu Joshua memegang rambutku,
sekarang malah terkesan aku menyuapinya. Tentu saja aku tambah malu saat itu.
Aku mengangkat kerah jaketku untuk menutupi bibirku yang tidak bisa menahan
senyum. Aku pun mengalihkan pandanganku dari Joshua. Awalnya aku malu, tapi
ketika aku memberanikan diri melihat Joshua, aku terpaku dengan keadaan Joshua
yang menatapku, ia menutupi mulutnya dengan tanganya sepertinya ia juga
menutupi senyumanya saat itu. Aku menatapnya sejenak, lalu menundukan
pandanganku.
“Ell,
aku antar kamu ke kost”
“Iya
Josh” Aku segera berdiri saat itu. Tapi Joshua bukanya berdiri, dia masih dalam
keadaan duduk lalu melambaikan tanganya menandakan memintaku untuk menariknya. Tentu
saja lalu aku menariknya untuk segera berdiri. Joshua berdiri, tepat
dihadapanku. Joshua memang tinggi, atau aku yang pendek. Wajahku tepat berada
di dada Joshua, mungkin hanya berjarak beberapa cm. Hingga aku bisa merasakan
lebar dada Joshua saat itu.
***
“Josh,
kamu bisa setinggi ini makan apa?”
“Makan hati,
hahaha”
“Serius, aku
pengen”
“Pengen aku?”
“Pengen tinggi
Josh”
“Nanti kalau
udah waktunya tinggi juga tingi”
“Tapi kapan”
“Ya kalau ga
tinggi-tinggi ya udah segitu aja”
“Joshua”
“hahaha” Aku
menikmatai setiap percakapanku dengan Joshua, dia selalu membuat suasana untuk
terus ada hal yang menarik untuk dibicarakan. Aku pun nyaman dengan apapun yang
aku bahas bersamanya.
Setibanya di
depan kost, aku segera turun dari motor Joshua.
“Udah,
makasih udah dianter”
“Iya,
sana masuk dulu” Aku langsung melangkah menuju sampai pintu masuk kostku. Ku
lihati Joshua. Lalu dia pergi dengan motornya sambil melambaikan tangan khas
Joshua, tanda berpamitan. “Hati-hati” kataku dalam hati sambil melihatinya
pergi.

Silahkan berkomentar sesuka kalian. Saya menerima segala bentuk masukan :)
BalasHapuswawwww
BalasHapussemangattttt
BalasHapus